Pos

Menampilkan pos dari 2013

Selamat Hari Ibu, Mah...

Apa yang bisa aku sebutkan? apa yang bisa aku sanjung? apa yang bisa aku banggakan? jika semua sebutan, jika semua sanjungan, dan jika semua kebanggaan dariku adalah dirimu sendiri, mah?
sudah amat sangat jelas di dunia ini, tidak satupun makhluk Tuhan memiliki kesempurnaan, tetapi mana bisa seorang anak tidak menyempurnakan ibundanya sendiri, mah? aku tidak mengkuduskanmu, mah, aku mencintaimu layaknya manusia. Air mata, kemarahan, dan segala gerakmu adalah satu diantara komponen hidupku, mah. Maka terus bertindaklah seperti seharusnya seorang ibunda, seperti dulu hingga saat ini. Bertindaklah seperti aku adalah anak kecilmu. Selamanya.
Aku selalu membenci setiap manusia yang membencimu, mah. Aku berdosa. Tapi apa salah seorang anak yang engkau lahirkan membenci manusia yang membencimu? Aku tak rela mendengar mulut jahanam orang lain mengumpatmu, mah. Aku bisa menjadi iblis bagi mereka yang melakukannya. Aku berdosa, mah. Tapi salahkah anak perempuanmu membela ibunya sendiri?
Aku tida…

Rumahku, Matamu...

Rumah adalah tempat teduh yang menyajikan kenyamanan, bukan? Mungkinkah matamu adalah rumahku? Sebab di sana ada teduh dan kenyamanan.
Rumah adalah tempat kembali ketika kita pergi. Mungkinkah matamu adalah rumahku? Sebab setiap perjumpaan, matamu menjadi titik pemberhentian.
Rumah adalah tempat pertama yang kita cari ketika pulang. Mungkinkah matamu adalah rumahku? Sebab tempat pertama yang kucari tiap hari adalah matamu.
Rumah adalah tempat berbagi rasa. Mungkinkah matamu adalah rumahku? Sebab rasa rindu dan bahagiaku terbagi di sepasang bola itu.
Bagaimana bisa aku tak bahagia ketika memandang lingkar berbinar itu. Ketika pada akhirnya tujuan dari hatiku adalah matamu. Bagaimana bisa aku tak bahagia ketika satu tempat pemberhentian ragu dan gelisahku adalah matamu. Bagaimana bisa aku berbalik dan memunggungimu, sementara benar tempatku pulang dan kembali ada pada mata itu. Bagaimana bisa, aku melupakanmu sementara rumahku itu, matamu.

Sedikit Renungan untuk Kebumen Beriman

Tadi sore aku terlibat pembicaraan serius dengan seseorang. Kakak kelas ketika SMA sekaligus motivatorku secara tidak langsung. Umurnya masih 19 tahun, sebulan lebih muda daripada aku, namun pikirannya --dan karena pendidikannya-- dia seolah lebih matang. Dia memberiku sebuah ide menarik. Menjadi mahasiswa yang tak sekadar mahasiswa. Lebih dari itu, bukan tentang materi, akan tetapi lebih kepada esensi hidup.
Dia merasa, kami, warga Kebumen yang menempuh pendidikan di luar kota, melupakan sesuatu yang sebenarnya memang sangat memalukan, yaitu membangun tanah dan tempat lahirnya. Kami terlalu sibuk pada urusan dan kepentingan kami di tanah rantau, sementara Kebumen seolah merana tanpa dilihat dan diperhatikan oleh putra-putrinya yang mengaku berpendidikan. Seolah kacang lupa kulitnya, mahasiswa yang berasal dari Kebumen bertindak layaknya Eropa kolonial, hanya mengeruk dan hidup dari tanah jajahannya, tanpa memberikan timbal balik pada tanah yang ia tempati. Apa bedanya kita dengan Ero…

When "A Thousand Years" just be a memory..

Pagi ini, berlatarkan lagu "A Thousand Years" dari Christina Perry ingatanku memunculkan bayang-bayangan beberapa waktu silam. Ketika seseorang yang 'pernah' sangat membahagiakan memainkan keyboardnya lalu menyanyikan lagu romantis ini untukku. Aku akui suaranya merdu, dalam, dan seperti kebanyakan wanita, aku hanya terharu, memerah, dan speechless. Tak lama diraihnya gitar, lalu lagi-lagi lagu ini mengalir lancar dari mulutnya. Aku merasa seolah akulah wanita paling beruntung. Tetapi bukankah waktu, bumi dan segalanya berputar pada satu arah dalam fase mereka? Ya, segala sesuatu di dunia ini yang tak kan pernah kita sangkal keberadaannya adalah perubahan. Seluruh nyanyian... musik, lagu dan hal-hal menyenangkan lainnya adalah sementara. Dan itulah yang indah di dunia ini. Sementara. Kau tak akan bosan pada segala yang sementara. Hanya mungkin pada kesementaraan kau akan lelah. Lelaki baik yang 'pernah' sangat membahagiakan pada akhirnya mengikuti waktu. Ia b…

Bolehlah Tuan

Boleh lah Tuan bermalam dahulu di rumah saya sebelum menghilang. Sebelum gelap memapah Tuan pada ketiadaan. Menghilangkan Tuan seperti Tuan-Tuan terdahulunya.
Bolehlah Tuan singgah sebentar di rumah saya. Daripada hanya menyapa kecut tanpa terbaca. Saya hanya ingin menikmati pagi dan malam-malam dingin bersama Tuan, di depan perapian. Saling mengisahkan masa lalu dan memupuk masa depan.
Bolehlah Tuan bertamu di rumah saya barang sebentar, meneguk rindu menepiskan cemburu. Memilin-milin risau yang tersandera galau.
Bolehlah Tuan menyapaku dalam, sebab senyum Tuan tak hanya mematikan. Kadang terbakar diri pada sudut-sudut gelap mata Tuan, lalu pada alasan-alasan yang saya tak tahu dari mana hulu dan hilirnya.
Bolehlah Tuan mampir lama di lembah hati saya, daripada Tuan hanya lewat, senyum kecut, lalu menghilang tanpa tahu dimana bermuara. Datanglah pada saya, yang hingga Tuan berkelana namanya tetap Tuan kenal. Menetaplah pada hati saya, tak perlu takut Tuan pada kepedihan sebab Tuan a…

Tuan

Tuan, maafkan aku yang membisu diantara tanya. Sungguh aku hanya kehabisan kata dan enggan berderai air mata. Tuan, maafkan aku yang hina. Yang mengasihimu lebih dari semestinya. Yang mengkhayalkanmu tanpa berlandas logika. Seperti pungguk merindu rembulan. Seperti tangan yang takkan pernah mampu menggapai gemintang.
Tuan, maafkan aku yang terlalu bodoh memimpikanmu. Menggapai-gapai langit-langit kamarku seolah ada wajahmu yang ingin kurengkuh. Maafkan aku Tuan yang akhirnya tetap pada khayalan. Aku tak mampu mengendalikan rasa yang pada akhirnya meraja. Sebab malam dan pagiku seolah milikmu. Tuan yang akhirnya tetap pada ratapan, ada senyummu yang semakin meremukkan rusuk dan tulang-tulang. Maafkan aku yang mencoba membenci tiap hal tentangmu, Tuan. Aku hanya mencoba berdamai dengan realita. Mengubur mimpi-mimpi dan khayalan yang telah ku sulam. Tuan yang pernah kurindukan, maafkan aku yang sempat menorehkan namamu di satu sudut hati terdalam. Tuan yang sekarang setengah mati ingin k…

Teruntuk Kakanda

teruntuk kakanda di suatu tempat tak tergapai jemari..
malam telah larut menyisakan cerita pagi... namun rembulan tak benar-benar bertengger di singgasana agung, sedang para bintang masih tertidur di bawah kelambu enggan menebar kerling sendu. desau angin malam ini mengalun menembus rindu, mengristalkan kangen pada lalu.
teruntuk kakanda yang teramat jauh dari pandangan...
sudikah kiranya engkau memeluk cintaku yang tak bertuan.
ia terlalu lama mengapung pada samudra ketiadaan, terhanyut diantara lara dan duka derita, tercabik, terlunta pada tanah tanpa pijakan. cintaku fakir tanpa pemiliknya. layaknya ilalang diantara gersang. sudikah kiranya tuan...
teruntuk kakanda yang jauh dari dekapan...
hatiku hampir mati tertikam, pada rindu kangen yang tak engkau balaskan. berniatkah tuan menghukumku dengan cambuk sembilu? mematikan rasa yang teracuni candumu. teracuni senyummu.
teruntuk kakanda yang rinduku dia mentahkan...
semesta membuatku bertekuk di hadapan, namun engkau diam. kiranya ka…

Pada

pada awal yang akhirnya menjadi titik, aku mencintaimu.
pada temu yang akhirnya menjadi perpisahan, aku mencintaimu.
pada perjumpaan yang akhirnya menjadi kenangan, aku mencintaimu.
pada detik yang akhirnya terhenti, aku mencintaimu.
pada kota yang menjadi anak tangga mimpiku, aku mencintaimu.
pada rindu yang datang menghimpit, merontokkan rusuk-rusuk, pada kangen yang mencengkeram membekas lara, ya... aku mencintaimu.
tapi pada cinta-cinta itu, pada malam-malam di kota itu, pada rindu-rindu itu, aku lupa. adakah cinta-cinta dari rasa yang kau sendiri tak ungkapkan ada tiadanya. aku lupa, ah tidak lupa, mungkin melupa. aku mencintaimu tanpa jawaban. hanya menjalani tanpa harapan.
lalu bodohkah itu? pasti bodoh. sangat bodoh.
kau tahu rasanya merindu tanpa dirindu, layaknya meletakkan hatimu pada pecahan-pecahan gelas. pedih, sedih. kau mengerti rasanya mencinta tanpa dicinta, seolah pecahan itu mencabik lapisan-lapisan kulitmu. mengalirkan darah dan air mata. menghancurkan pikir dan p…

Sesederhana itu

aku ingin menikmati angin bersamamu, membelaikan rambut dengan mesra. aku ingin menikmati pagi bersamamu, memanaskan tulang sampai ke sumsumnya. aku ingin melihat langit bersamamu, berjalan-jalan seadanya. aku ingin bernyanyi denganmu, bersenandung di tengah malam. aku ingin menghitung bintang dengan jari-jarimu, habiskan waktu luang. aku ingin tertawa bersamamu, terbahak dan terpingkal, menuakan muda kita. aku ingin bergandengan diantara rapuhku, membuat alam raya cemburu. aku ingin bermain layang-layang di sampingmu, melihat benangnya mengudara. aku ingin berceloteh di telingamu, membelalakan mata. aku ingin menikmati hujan berdua saja, mencoba menggapai rintiknya, menari dan berdansa. lalu kita menangis dan bersuka, berdua. bertelanjang kaki, berlarian, menelanjangkan rapuh kita, menguatkan bahu kita. aku hanya ingin sesederhana itu, menjadi anak-anak bersamamu, merangkai mimpi-mimpi, menikmati dunia, menghancurkan belenggu, meneriaki cemburu, sesederhana itu. menjadi anak-anak ber…

Sedikit tentang lalu

Gambar
foto : Guntur Triyoga
Aku pernah terjatuh dan tak pernah berharap untuk mampu berdiri.. Lalu aku pernah merasakan perih dan tak berpikir mampu sembuh, tak terluka lagi.
Namun diantara hitam dan sedih yang aku derita, dia datang. Seseorang yang dari awal perjumpaan telah membuatku mengingat wajahnya. Seseorang yang sejak awal perjumpaan telah membuatku merasa tak 'kan mampu menyapanya.
Dia datang lebih dari yang aku butuhkan, seperti kakak, seperti sahabat, seperti kekasih, seperti apa yang tengah aku butuhkan. Aku merasa terbuang, tersingkirkan, namun dia menggandengku, menopangku, menguatkanku.
Aku tak pernah merasa sekuat itu, tak pernah merasa semampu itu. Dia tinggal, tidak pergi ketika yang lain pergi. Mengulurkan tangan ketika yang lain menarik bantuan. Dia Malaikat Mimpi-ku dan dia tahu.
Lalu aku bahagia, sekejap. Dia memberiku "cinta", katanya. Aku pun sedikit merasa. Namun banyak mulut yang membuatku merasa it isn't a good choice. Ya, aku menelantarkan yang …

Apa Kau Pernah?

apa kau pernah menanti seseorang hingga keputusasaanmu menghampiri? apa kau pernah menyebut nama seseorang dalam percakapanmu dengan Tuhan, namun seolah dia tidak menghargai? apa kau pernah menunggu seseorang mengirim pesan padamu hanya untuk memastikan dia baik-baik saja dan mengingatmu? apa kau pernah tersiksa memikirkan seseorang yang kau cintai tidak memberimu kabar namun memberi kabar pada orang lain? apa kau pernah merasa ingin menyerah ketika seseorang yang kau perjuangkan bahkan tidak melihat keberadaanmu? apa kau pernah? lalu apa yang kau lakukan?
aku menyebut namamu dalam setiap langkahku, biar Tuhan menyampaikan rasa itu ke hatimu, namun mungkin hatimu telah kau tutup tanpa celah, Tuhan bisa membukanya, namun Tuhan lebih tahu apa yang sebaiknya aku lakukan. aku enggan mengatakan rindu padamu, aku tahu rinduku termentahkan. dia tak sanggup membuka pintu itu, lalu aku biarkan Tuhan dan waktu yang menyimpannya. aku ingin kau baik-baik saja, dan kau baik-baik saja. namun aku te…

Opini tentang Pendidikan Indonesia ( tugas LPM )

Berhak Lupa

aku adalah serpihan-serpihan malam, aku adalah kepingan-kepingan kisah yang mungkin perlahan namun pasti kau lupakan. aku hanya sisa dari harap-harap impian. aku hanya bias dari cahaya yang memantul pada cermin-cermin retak. tak terkendali tak terdefinisi. aku hanya daun-daun kering terhempas angin namun tak mampu membencinya. aku hanya lirik-lirik lagu yang lupa kau tulis, notasi-notasi tinggi yang kau benci, nada-nada sumbang dari dawai gitar yang kau petik. aku hanya malam tanpa rembulan maupun gemintang, aku hanya pantai yang tak berombak, aku gunung yang tak berbatu. aku adalah masa lalumu, namun kau masih menjadi masa kini ku. aku ini siapa? aku pun tak tahu. pada detik dan menit aku hanya merangkai rindu, tak berbatas tak berbalas. Pada jam dan hari-hari ku ukir namamu pada doa-doa, tak berbatas tak berbalas. Pada janji-janji dan kisah-kisah, ku selipkan wajahmu, tak berbatas tak berbalas. Aku hanya langkah-langkah bodoh pada masamu, hanya pasir dari pantai gersangmu, labuhan t…

Masa Lalu, Labil, dan Proses

Hallo,
Hari yang keseluruhannya dingin... entahlah, tetapi setiap bulan Ramadhan, di kampungku suasananya selalu begini.
Di penghujung siang yang dingin ini, aku merasa sesuatu keanehan. Seperti ada kekosongan yang tak biasa. Mungkin karena seseorang yang hampir setiap hari aku khawatirkan keadaannya tengah berada jauh di tempat yang tidak bisa aku bayangkan.
Tetiba aku berpikir, orang yang setiap hari bertemu saja bisa dia lupakan dengan mudah, apalagi aku? orang yang mungkin tidak ada satupun momenku yang ia simpan di memori otaknya.
Tapi... ah sudahlah, bagiku itu hanya cerita biasa...
Bukankah setiap manusia memiliki luka dan ketakutan masing-masing?
Hari ini aku belajar dari kisah sahabatku... Lebih tepatnya pembenaran atas sikapku.
Beberapa orang dalam kehidupanku ceritanya hampir mirip denganku. Kami sama-sama terjebak dalam bayang-bayang masa lalu. Atau mungkin memang kami---kebanyakan wanita---adalah orang-orang yang tidak termasuk dalam jajaran orang-orang mudah lupa? Atau m…

Hallo Aku Jatuh Cinta

Hallo selamat sore...
Sore yang teduh di kampungku. Jingga tidak bisa menembus barikade awan dan persengkongkolannya dengan mendung... Dingin memang telah biasa pada pagi dan sore di tempat ini, hingga tidur adalah kegiatan paling menarik ketika liburan singgah di kalender akademikku. Oke, sore ini aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu...
Apa kau pernah merasakan jatuh cinta atau paling tidak mengira itu jatuh cinta? Jantungmu berdetak tak terkendali ketika otak mengirimkan sinyal-sinyal yang kontras luar biasa dengan atmosfer sekeliling kita?
Ketika tidak berani menatap matanya atau salah tingkah ketika duduk berdekatan dengannya? Atau mungkin kau berharap dia membalas pesanmu lebih panjang dan setiap hari mengirimkan perhatian? Atau ingin menyentuhnya namun ada getar-getar kecil di balik lapisan kulitmu? Bahkan ketika berjabat kau tak ingin melepas, atau ketika berjabat kau tak henti berdegup dan hilang akal, bimbang, lalu merasa seolah seluruh kupu-kupu yang tadinya bergerak da…

Rindu untuk siapa?

pernah merindu? namun kau tak tahu teruntuk siapa rindu itu?
malam ini rinduku tetiba muncul tanpa memberi salam, dia mengetuk perlahan pada dinding hati yang tenang... sakit tetiba bermunculan, mencari sandaran labuhan. risauku melayang, menghitam. kemana rindu ini akan ku sematkan? sementara ada jarak dan waktu yang terbentang, ada kepentingan-kepentingan dan perbedaan. aku tak tahu rinduku teruntuk siapa, dia seolah anak ayam kehilangan sang induk, sementara aku tak mampu mengembalikan induk.
Rinduku kacau balau, hingga aku tak mengerti sesiapa yang ada pada rinduku. yang berada di balik rindu sendu...

Mencintai otak dan ahlaqnya...

Selamat Malam,
ini malam minggu yaaa? Selamat bermalam minggu yang sedang tidak tarawih, dan selamat beribadah yang sedang beribadah...
pernah merasakan jatuh cinta pada isi otak dan ahlaqnya? manis yaaa? iyaa... mungkin kurang tepat jika dikatakan jatuh cinta, karena cinta memang tak pernah memiliki alasan pasti untuk pembenarannya. terlalu dangkal jika kau mencintai orang karena otak dan ahlaqnya saja...
bayangkan saja jika otaknya nanti sudah usang dan tua hingga seluruh isi yang ada pada otaknya juga ikut usang, maka mungkin cintamu juga akan usang. Lalu jika kau hanya mencintainya karena ahlaqnya, mungkin sangat benar ketika dihadapkan dengan masalah religi, tapi akankah kita berhenti mencintai jika dia jatuh pada titik dimana hal-hal salah berada. Bukankah cinta yang benar akan menunjukkan jalan yang benar pula?
ketika yang kau cintai adalah orang dengan otak standar, maka bisa saja cinta mengubah cara berpikir standarnya itu. Atau bisa saja ketika kau mencintai seorang penjaha…

22:54

senja tadi di ujung jalan kampung halaman. jingga tadi, di persimpangan Jogja dan kenangan. aku berlalu perlahan, menatap sore yang kemilauan. entah apa yang aku cintai dari Jogja, kota bertabur cerita... aku tak pernah berharap untuk menetap di sana lama, aku hanya cinta suasana damainya... nostalgianya... aku suka berjalan lama di sudut-sudut malioboro, menikmati malam duduk di kaki lima, bercengkerama hangat, membuka mata dengan suasana berbeda dari sebelumnya, bahagia. Ya, aku bahagia dengan Jogja yang sederhana, dengan senyum hangatnya, dengan romantisme yang tercipta dari jejeran lampu remang-remang. Aku suka Jogja, ketika malam, ketika santai dan lengang, ketika hari bahkan begitu panjang, aku suka Jogja... tetapi jingga di sudut senja menyadarkanku, ada kehilangan mendasar padaku atas kota itu, kau tahu apa? cinta... aku kehilangan kecintaanku padanya... aku telah larut dalam bising dan riwehnya pra-metropolitan... Jogjaku berubah perlahan, jumawa sedikit merusak kesederhanaan…

Ayo Menulis :))

Hai selamat malam. Ini Kamis malam, dan aku tengah bersantai di depan televisi dalam kamar kosku. Hari yang.... biasa saja. Tidak spesial dan juga tidak buruk. Tadi baru saja aku menginstal aplikasi blogger for android, lumayan lah, setidaknya sekarang aku bisa menulis tanpa harus membuka PC... hehehe
Malam ini sepertinya aku kekenyangan, ini Ramadhan, dan aku berbuka puasa dengan makanan berminyak brooo, dan baru beberapa menit lalu juga makan gorengan gitu, duuuuh... tenggorokan udah mulai gak karuan, haha
sepertinya aku pikir postingan ini adalah salah satu postingan paling tidak penting yang aku publikasikan, but so what?? selama kamu masih bisa menulis, tulislah apa yang ingin tulis, karena tanpa menulis kamu hanyalah hewan yang berpikir haha, Pram banget yaaa, tapi aku sih setuju... bahkan sangat setuju, ketika manusia enggan menulis, lalu apa yang akan mereka tinggalkan nanti setelah mereka meninggal, hanya foto, kenangan, memori? iya jika yang hidup ingat, lalu kalau tidak, te…

sepucuk rindu

seandainya gelap adalah caraku mencintaimu, aku takkan pernah berharap siang datang. apabila malam adalah caraku memendam rindu dan membisikkan namamu pada desau angin adalah jalanku mengungkapkan rasa itu, maka takkan ku biarkan pagi berlabuh di kotaku. aku hanya bertaruh pada gemuruh malam dan pesona bulan, bahwa rinduku kau sambut tanpa termentahkan. namun sepertinya aku kalah, rinduku tak pernah sampai pada rumahnya... dia mati kering setelah sang pemilik mengacuhkannya... ini tentang rindu dan kangenku yang tumbuh namun tak berbalas, tentang asam yang terkecap dari pedihnya penolakan.. tapi apabila gelap adalah caraku mencintaimu dan malam adalah jalanku memendam rindu, maka semoga pagi dan senja akan seperti rindu yang cair pada masanya, pada manisnya, pada rumahnya, pada pemiliknya... kamu.

Kepada Kamu Kangen dan Cinta itu

tiba-tiba waktu memunculkan rindu yang masam, mengorek kangen yang menggelitik ingin tersampaikan... malamku samar ketika rindu menggelayut manja pada hati yang belum seutuhnya sembuh, masih pada titik dimana sakit adalah kawan baik. seolah kangen menjadi raja dari raja, ia bergumul dengan resah dan kenangan, membentuk satu bongkahan batu besar... bersiap jatuh dan mengenai alam bawah sadar, memerintah secara sepihak lalu melemparkanku pada kamu dan masa lalu... pada tawa dulu, pada bahagia ketika aku dan kamu masih dalam satu wadah bernama cinta, atas nama cinta. pada saat tangis dan sakit bergandeng beriringan, menepuk logikaku keras, memorak-porandakan benteng kepercayaan, menepiskan rasa. kata seseorang itu adalah titik dimana cinta telah sampai pada batas manisnya, ketika cinta telah habis waktunya, ketika yang bermain hanya logika, hanya tentang pilihan tetap bertahan dan saling menahan atau menyerah dan melepaskan. dan pada akhir yang sakit namun melegakan, sebuah…

Pemilik Rindu

Selamat malam untuk pemilik sepotong rindu ini,
rindu yang membekap erat diantara dingin dan bekunya jiwa
Selamat malam kepada pemilik risau ini,
risau yang menyeruak menyempitkan rongga dada
Selamat malam untuk penghuni hati rapuh ini,
luka telah mengobrak-abrik keadaannya..
Kemarilah hai kau pemilik rinduku...
Basuhlah sedikit lukaku, tak perlu kau menyembuhkannya... Lukaku mampu menghilang sendirinya
Kau hanya perlu merawatnya, menjaga hati yang telah banyak mengalami mati dan kemudian bangkit lagi..
Hati yang menghitam terlalu dini, hati yang sakit terlalu  pagi...
Kau pemilik rinduku ini..., aku tak memintamu untuk menyembuhkannya.., hatiku mampu melenyapkan lukanya sendiri, kau hanya perlu menatapnya, membekapnya, mmenghangatkannya..
aku tak memintamu terlalu banyak, dia mampu menghidupi dirinya sendiri... mampu..
kau hanya perlu menemani sepinya, meramaikan birunya... mendamaikan senjanya..
lakukanlah hai kau penghuni hati yang rapuh ini, lakukanlah, lakukanlah...

Sebab Mencintai Tak Membutuhkan Alasan

Terkadang sebuah tunggu terlalu absurd untuk didefinisikan alasannya. Terkadang pula sebuah rasa terlalu samar untuk dipahami maknanya. Aku tak pernah memintamu untuk berhenti lalu menatapku yang dengan lelahnya menantimu.  Menanti asa pada harap semu. Aku tak pernah menagih jawabmu, meski aku telah payah pada lukaku. Bukan, bukan aku yang seharusnya berteriak, menyerukan pedih dan perih. Bukan, bukan kewajibanku. Aku hanya perlu memandangimu, memandangimu dengan sejuta gejolak lebam sembilu. Aku hanya perlu menatapmu dari sini, dari balik gelap dan abu-abu. Di balik hujan dan petir. Aku hanya perlu melihat langkahmu dari sini. Agar kau tak mampu melihat air mata dan mendengar desah pedihku. Agar hujan menemani penantianku, agar petir menyanyikan risauku.
Aku tak perlu berteriak, menyeruak dari gelap dan membuatku lara. Aku tak ingin dan tak mau. Aku cukup mencintaimu dengan caraku, dengan harap dan penantianku.
Bukan karena aku tak berani, bukan karena aku tak mampu. Hanya karena aku…