Senin, 14 Oktober 2013

Sedikit Renungan untuk Kebumen Beriman

Tadi sore aku terlibat pembicaraan serius dengan seseorang. Kakak kelas ketika SMA sekaligus motivatorku secara tidak langsung. Umurnya masih 19 tahun, sebulan lebih muda daripada aku, namun pikirannya --dan karena pendidikannya-- dia seolah lebih matang. Dia memberiku sebuah ide menarik. Menjadi mahasiswa yang tak sekadar mahasiswa. Lebih dari itu, bukan tentang materi, akan tetapi lebih kepada esensi hidup.
Dia merasa, kami, warga Kebumen yang menempuh pendidikan di luar kota, melupakan sesuatu yang sebenarnya memang sangat memalukan, yaitu membangun tanah dan tempat lahirnya. Kami terlalu sibuk pada urusan dan kepentingan kami di tanah rantau, sementara Kebumen seolah merana tanpa dilihat dan diperhatikan oleh putra-putrinya yang mengaku berpendidikan. Seolah kacang lupa kulitnya, mahasiswa yang berasal dari Kebumen bertindak layaknya Eropa kolonial, hanya mengeruk dan hidup dari tanah jajahannya, tanpa memberikan timbal balik pada tanah yang ia tempati. Apa bedanya kita dengan Eropa kolonial? Hanya berbeda tanah jajahan dan tanah kelahiran. Bahkan ironisnya, kita yang lahir dan ditumbuhkan di tanah ini tidak sedikitpun berkontribusi dan memberikan timbal balik. Kami sibuk dengan pencarian eksistensi, sementara di tanah ibu kami sendiri, masih banyak yang perlu dibenahi. Mahasiswa sebagai agen perubahan. Kadang kalimat tersebut terdengar begitu menggelitik. Perubahan untuk siapa sebenarnya? Jika dihadapkan pada kenyataan yang sekarang terjadi, kebanyakan mahasiswa lebih mementingkan perubahan pada hidupnya, tidak untuk sekelilingnya. Individualis, atau mungkin apatis? Terlalu sibuk dengan urusan pribadi yang pada akhirnya juga akan dinikmati sendiri.
Mahasiswa yang sebenarnya bisa berbuat lebih banyak sekarang seolah-olah menjadi katak dalam tempurung. Hanya berdiam, menikmati perlindungan. Tidak malu melihat ternyata tanah yang ia tempati masih mengalami kesulitan. Makan diantara orang kelaparan. Berdiam diantara orang yang membutuhkan pertolongan. Lalu pantaskah kita yang jauh-jauh menimba ilmu, dibiayai orang tua yang mampu, hanya berdiam melihat kota kelahirannya terbelakang? Lalu tegakah melihat kota yang menjadi saksi kita tumbuh termakan zaman tanpa perubahan? Di sudut-sudut Kebumen, jika kita mau nelihat, masih ada generasi muda yang rela kakinya terluka tanpa alas demi menimba ilmu. Lalu apa kita akan diam? Mahasiswa yang menjunjung keadilan, pendidikan serta segala martabat di pundaknya, tanpa usaha, tanpa memberi bantuan, memberi sedikit perubahan, masih pantas kita memamerkan diri sebagai agen perubahan? penerima tongkat estafet kekuasaan? Tidakkah malu pada almamater kebanggaan kita, di sudut kota kecil kita saja kita tak mampu membenahinya. Hai mahasiswa, khususnya mahasiswa Kebumen di rantau sana. Kebumen membutuhkan kita, membutuhkan uluran tangan untuk adik-adik kecil kita yang menginginkan pendidikan. Setidaknya, menjadi berharga dalam satu fase hidup kita, apa susahnya?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar