Senin, 09 November 2015

Wangi

Beberapa bunga menganggap dirinya terus mewangi sendiri. Dan beberapa bunga lainnya mencoba tetap mempertahankan wanginya. Bunga-bunga itu bisa saja memilih untuk gugur, namun enggan. Di benaknya, gugur tanpa meninggalkan wangi adalah kesalahan. Setidaknya ada bagian dari anak-cucunya yang nanti memberi wangi di tanahnya.
Bertahan dari situasi yang tidak menghidupi adalah kekuatan. Tetapi yang terjadi adalah disalahkan keadaan.
Cabut saja setiap bunga yang tak mewangi, jika memang taman ini hanya untuk bunga yang wangi. Sebab bunga tak wangi hanya menjadi beban tersendiri. Lalu cabut saja bunga yang mencoba mempertahankan wanginya, sebab sama saja ia tak lagi wangi sempurna.
Sudahi saja semua perang wangi dan tak wangi. Jelaskan garisnya. Biar yang melewati garis dibunuh saja. Sudah tidak dibutuhkan lagi bunga-bunga tak berotak. Yang taman ini butuhkan bunga mewangi yang mampu mempertahankan dirinya sendiri.
Kalau tidak, benahi saja semua wanginya. Apa benar wangi yang dimau adalah wangi yang dihasilkan. Wangi ini membuat buta dan tuli. Membuat amarah dan emosi. Lalu apa gunanya wangi, jika hasil dari wangi adalah prasangka dan kepura-puraan yang sembunyi.
Entah. Entah. Entah. Bunga itu yang salah mengerti atau memang pemaknaan itu terlalu semu. Jelaskan saja garisnya, kataku. Wangi apa yang dimau. Biar tak lagi ada bunga yang tak mewangi. Biar tak lagi ada bunga yang menggugurkan diri. Biar tak ada lagi bunga yang mempertahankan wanginya tanpa arti. Sebab bertahan di situasi yang tak menghidupi adalah kekuatan. Tetapi jika kekuatan diragukan, maka apalah arti wangi. Baginya.

Sabtu, 07 November 2015

Hujan November Datang

Hujan November datang, kawanku. Ia membangunkan dari kering yang mulai mengaduk-aduk emosi.
Hujan November pulang, kawanku. Ia mengetuk daun-daun yang layu di dahannya sendiri. Menetes pada hati-hati manusia yang mulai berprasangka. Membenci keadaan yang mulai tak bersahabat. Meneriaki kenangan yang memunggungi.
Hujan November senang, kawanku. Ia menari di atas gemericiknya sendiri. Bersenandung bersama melodi-melodi minor dari dawai penyendiri. Meniup-niup halimun menerbangkan gerimis. Menimang para pemimpi di siangnya yang dingin.
Hujan November menang, kawanku. Amarah larut pada syukur. Benci beradu rindu. Mendung benar, ia hujan sekarang.
Kini sedih tahu tempatnya tumpah, kawanku. Hujan November memberinya pelukan. Risau tak lagi berjalan tanpa genggaman. Gerimis telah menyentuh tepat pada sebabnya.
Hujan November mulai datang, sayangku. Tak ada lagi lelah yang tak dapat kau tangisi. Sebab kawan hujan, selain tawa gembira bocah-bocah bertelanjang kaki, juga airmata para penggelisah.
Hujan November datang, kawanku. Ia datang. Buka jendelamu, lalu rasakan. Ia memberi pelukan, kejutan.

Sabtu, 09 Mei 2015

Entah Pagi ke Berapa

Selamat awal pagi.
Entah pagi ke berapa yang aku habiskan hanya untuk ku bunuhi.
Sudah memasuki Mei minggu ke dua. Bulan di mana pada tahun-tahun sebelumnya banyak yang dirapal. Pengharapan yang masih mengayun manis.

Entah pagi ke berapa yang diawali dengan segala kekosongan pikir. Berkelana imajinasi menembus batas-batas ruangan. Kamar berantakan bercat pink. Kesepian yang terwujud dengan amat sangat eksplisit. Dibumbui hening yang tercipta pada sepertiga malam.

Entah pagi ke berapa. Sepertinya sekarang berkawan sepi adalah kewajaran. Semakin bertambah usia dan sebagainya, wajar untuk merasa kesepian. Tanpa perintah dari mulut-mulut manis ibu atau ayah di angka 10 malam. Perintah mencuci kaki dan tangan. Perintah berdoa, matikan lampu, dan pejamkan mata.

Sepertinya sepi adalah sebuah kewajaran. Sama seperti waktu yang kubunuhi atau membunuhi. Ia kewajaran dari rotasi bumi pada matahari. Berulang dengan detik yang itu-itu saja. Angka satu sampai 12 di putaran jam dinding. Angka satu hingga 30 untuk tiap hari dalam bulan normal. Dan hitungan-hitungan yang itu-itu saja. Sebuah kewajaran.

Entah pagi ke berapa yang menjadikan sepi adalah kewajaran. Bermanja dengan kasur dan televisi yang pemainnya asik sendiri. Dengan handphone yang tak lepas dari tangan. Seolah pelekat dipasang erat lalu mengering. Ia hanya akan jatuh ketika mata menutup atau baterai sekarat.

Seperti mencintai hal kosong. Pikiran melaju tanpa arah dan tujuan. Yang ia tahu hanya lebih baik berjalan. Lampu eletrik yang katanya hemat listrik menyala di atas kepala. Pedih mata terhunus cahaya. Sayangnya, seperti mencintai hal kosong. Otak tak mampu memproses apa-apa. Sepertinya ia mulai tua.

Entah pagi ke berapa aku mencintai kekosongan. Berjalan pada lapuk dan goyang. Padahal ada titian kuat di hadapan. Seperti baju-baju berserakan padahal almari siap menyimpan.
Di dalam kamar pink seperti kandang. Sesosok tubuh yang takut berharap, menikmati posisi tidurnya bersama seprai tergulung badan. Dikelilingi kertas berserak. Menurutnya kamar yang hangat namun tidak nyaman. Tidak ramai tapi damai. Damai yang sepertinya dipaksakan agar betah lama-lama di perantauan.

Entah pagi ke berapa yang hilang tujuan. Sepertinya hidup pun enggan. Mati pun takut jahanam. Dasar manusia tak punya pegangan. Masa depan apa yang diharapkan. Masa lalu apa yang ingin kau kenangkan. Biar saja mati ditelan waktu dan tengah malam.

Entah pagi ke berapa.

*Entah tulisan ini untuk apa. Sesuatu tentang sepi di awal pagi. Tentang rindu masa kecil. Tentang kesemua yang menjadikan kekosongan. Tentang pikiran yang sesat. Tentang waktu. Tentang takut. Tentang pagi yang wajar*

Jumat, 03 April 2015

Gelas-Gelas Kaca #2

"Jika memilih antara tujuanmu atau cinta, apa yang akan kamu pilih?"
Sore itu, di gelanggang olahraga Sazki bertanya tiba-tiba. Aku hanya menyeka pelan keringat di dahiku, kemudian membuka botol air mineral dan meneguknya. Sehabis latihan bulu tangkis, rasanya tenagaku dikuras habis. Ion-ion -yang kata iklan di televisi itu- menguap bersama keringat yang keluar. Untuk mencerna pertanyaan Sazki menjadi hal yang sulit. Atau mungkin aku yang sedikit enggan melakukannya.
"Menurutku, memilih itu adalah sebuah peluang. Kau ingat kan, rumus peluang dalam matematika? Ya, itu. Ketika kita memiliki peluang, ya artinya selalu ada pengorbanan pula. Jika salah satunya harus dipilih, maka salah satunya harus dikorbankan. Ya, begitulah kira-kira," jawabku sambil memasukan raket ke dalam tas. Sazki sudah dalam posisi duduk bersandar pada tempat duduk di tribun gelanggang. Aku kemudian menyusulnya duduk, menikmati detik-detik di mana hawa panas dari tubuh mengalami penurunan. Meluruskan kaki, meregangkan otot-otot yang sedikit tegang. Sepertinya pemanasanku tadi sedikit kurang.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Kay. Aku bertanya, mana yang akan kau pilih? Untuk peluang dan pengorbanan, ya memang benar. Entah analogimu tentang hal-hal ini," protesnya. Aku terkekeh. Ya, aku memang tak menjawab pertanyaannya, aku hanya tengah berteori. Lagi-lagi kucerna tanyanya. Aku rasa ini pertanyaan serius. Sebagai teman, mau tak mau aku harus memberikannya jawaban yang setidaknya membantunya berpikir. Tetapi, setiap pertanyaan pasti memiliki dasar. Aku tak ingin menjawab tanpa tahu kondisi sebenarnya.
"Apa yang membuatmu bertanya hal semacam ini, Saz? Kamu dalam kondisi ini?"
Wanita berambut sebahu ini terdiam. Di tatapnya langit-langit gelanggang. Dia menahan emosinya, ku rasa.
"Mungkin iya, mungkin tidak," jawabnya sambil mengarahkan matanya padaku. Aku tahu dia dalam posisi itu. Bola matanya mengisyaratkan keraguan.
Ku hirup udara pelan-pelan. Membiarkannya masuk untuk menenangkan tubuhku. Aku harap, ia mampu menurunkan suhu tubuhku perlahan.
"Kataku tadi, setiap pilihan memerlukan pengorbanan. Karena dalam pilihan itu terkandung peluang. Ketika kau memilih tujuanmu, maka rasa yang tadi kau sebut cinta itu, menjadi pengorbanan yang harus kau lakukan. Sebaliknya pun begitu. Sama saja hasilnya. Hanya saja yang perlu dipikirkan, sejauh apa peluang itu akhirnya menguntungkanmu. Egois memang, namun ketika kasusnya saja tidak aku ketahui, paling aman ya kau pilih yang paling menguntungkan," jawabku sambil ikut menyandarkan tubuh pada salah satu tempat duduk di tribun gelanggang.
"Kalau kau, memilih yang mana?" tanyanya kembali.
Aku diam. Dalam kenyataan, aku belum pernah memilih hal semacam itu. Bagaimana bisa memilih. Salah satu dari keduanya pun untuk saat ini aku tak memilikinya.
"Aku tak punya keduanya, Saz. Aku belum memiliki master plan ke depannya, apalagi cinta. Untuk saat ini, aku masih tak bisa mendefinisikan apa itu cinta. Aku tak berani menyebut perasaan-perasaan yang dengan mudah muncul itu sebagai cinta, Saz," ucapku pada akhirnya.
Setiap memori kemudian berkelebat. Mengenai sosok-sosok yang pernah menyenangkan dan akhirnya membosankan. Sosok-sosok yang awalnya begitu meyakinkan lalu berakhir menyakitkan. Ya, dangkal ketika aku tak memercayai cinta hanya karena kisah-kisah picisan pada masa lalu. Namun sakit itu terkadang memiliki dua sisi. Ia bisa saja membuat ketagihan atau normalnya membosankan. Dan, aku memilih bosan pada rasa sakit. Mungkin bisa dianggap menyerah, biarlah. Hidup sebuah pilihan, bukan?
Kami saling berdiam. Sibuk pada pikiran kami masing-masing.
"Memangnya cinta itu seperti apa? Mungkin kita butuh membuat parameter-parameter terlebih dahulu agar pertanyaanku dapat kau jawab," ucapnya kemudian. Aku terkekeh. Untuk percakapan santai seperti ini saja kami butuh membuat sistematikanya. Ah, dasar.
"Kau ini aneh, Saz. Kalau menurutku, cinta itu bebas definisinya. Siapa yang mampu membuat definisi cinta itu sama bagi setiap orang? Dangkal, ketika cinta itu dapat didefinisikan. Kau tahu? Terkadang sesuatu hal yang didefinisikan malah menyempitkan makna aslinya. Biarkan saja, cinta menurutku dan menurutmu itu berbeda. Boleh saja kau mendefinisikan cinta itu memabukkan, indah, menyenangkan, dan segala macamnya. Bisa pula aku mendefinisikan cinta itu sakit dan semacamnya. Tapi yang aku yakini, cinta itu salah satu bentuk dari ketertarikan yang telah menempuh beberapa proses. Secara definisi, aku tak berani mematoknya, biar saja cinta itu tidak terdefinisi. Cinta itu butuh ke-liar-an, kupikir. Hahaha," jawabku panjang lebar kemudian tertawa. Aneh dan sedikit menjijikan membahas hal semacam itu terlalu dalam. Melankolis.
Sazki hanya terdiam, kemudian menunduk. Ditopangnya dagu di antara kedua lutut. Dia menerawang jauh ke depan. Aku masih menunggu reaksi selanjutnya. Reaksi tak terduga dari Sazki, teman bulutangkis yang sudah ku kenal lama.
"Kay, setelah terakhir berpacaran dengan lelaki bajingan kemarin itu, apa kau sudah merasa jatuh cinta lagi?"
"Ah, lelaki bajingan, hahaha. Ya, dia memang bajingan. Untuk saat ini, aku rasa aku tertarik pada beberapa orang. Tetapi, kuulangi lagi kata-kataku di awal, aku masih tidak mau terlalu jauh menganggap rasa tertarik itu sebagai cinta. Biar saja nanti, kalau cinta ya cinta, kalau tidak, aku tidak akan terluka. Begitu," jawabku.
Kini Sazki yang terkekeh. Dia menepuk pundakku. Katanya, aku mencari aman.
"Iya, aku mencari aman. Bahkan kalau pada akhirnya, aku tidak menemukan hal-hal aman dalam cinta, dan pada dasarnya cinta menjadi syarat utama pernikahan, maka aku bersedia untuk tidak menikah," jawabku seraya tersenyum kecut. Ya, aku telah berpikir sejauh itu. Banyak kegagalan yang aku lihat dan sedikit membuat kepercayaan akan ikatan pernikahan dan cinta itu memudar.
"Jadi, kau melanggengkan pernikahan tanpa cinta, asal kau merasa aman di dalamnya? Tanpa rasa sakit, Kay?"
"Ekstrimnya, ya. Jika pada akhirnya tuntutan untuk melanjutkan keturunan semakin kuat, sedangkan kepercayaanku terhadap rasa aman di dalam cinta tidak aku punya, maka aku akan memilih menikah dengan orang yang mampu memberikanku rasa aman saja. Tetapi, dia tidak banyak menuntut karena tahu aku tak akan memberikannya apa-apa,"
Sazki ternganga, baru kali ini dia mendengar pernikahan versiku. Pernikahan yang entah apa namanya, mungkin bukan pula disebut pernikahan pada hakikatnya. Sebab maknanya telah berubah menjadi pelegalan terhadap penerus keturunan semata.
"Tetapi, jika tidak ada tuntutan untuk melanjutkan keturunan itu, mungkin bisa saja aku memilih tidak menikah, Saz. Zaman sekarang, banyak wanita yang memilih menyerahkan hidupnya pada waktu dan pekerjaan. Selagi memiliki kesibukan dan teman-teman, aku rasa tidak akan kesepian. Jika menginginkan bayi, aku bisa mengadopsinya. Banyak manusia di luar sana, entah yang karena apa, salah satunya mengatasnamakan cinta, yang tega membuang bayi-bayi tidak berdosa. Jika pada akhirnya apa yang kemudian aku sebut cinta itu malah menyakiti, atau bahkan aku tak menemukan alasan untuk mencintai, aku memilih hidup dengan dicintai. Oleh teman-temanku, keluargaku, dan mungkin bayi adopsiku itu. Hahaha," lanjutku sebelum Sazki sempat bertanya lagi.
Dia semakin tak mampu mengontrol kekagetannya mendengar jawabanku. Baru kali ini aku mengutarakan semua ide gila yang bermunculan setelah serangkaian peristiwa yang terjadi dalam hidupku. Umurku telah menginjak 21 tahun. Aku yakin, semua hal berpengaruh pada perkembangan pola pikirku. Aku sadar pertikaian antara kedua orang tuaku yang berujung pada perceraian mereka, merupakan salah satu penyumbang terbesar dari ketidakpercayaanku pada sebuah ikatan pernikahan dengan cinta yang tidak matang di dalamnya. Lalu, pengalaman buruk lainnya juga merupakan elemen dasar dari pemikiranku sekarang. Pengalaman pada jatuh cinta berkali-kali, perselingkuhan, rasa sakit teramat, dan berbagai macam hal yang berhubungan dengan perasaan.
Aku percaya, pengalaman telah membentukku memiliki pola pikir yang aneh bagi kaum wanita. Ekstrim dan menakutkan. Bahkan jauh dari kesan normal. Desperate katanya. Tapi, biar saja. Toh tidak ada ruginya bagi orang lain.
"Kau menakutkan, Kay," ucap Sazki setelah beberapa waktu ternganga tak percaya. Aku hanya tertawa. Lalu berbenah. Ku masukkan handuk ke dalam tas, begitu juga botol air mineral yang sedari tadi kugenggam. Aku beranjak dari dudukku. Adzan maghrib telah berkumandang. Aku rasa percakapan seusai latihan bulu tangkis sore itu cukup sampai penghujungnya. Banyak yang tak perlu orang lain tahu. Sebab tak semua orang mampu mengerti dan mau menerima alasannya. Terkadang kebenaran universal menjadi norma yang dianggap paling benar, sedangkan kebenaran subjektif yang murni dari pemikiran dianggap di luar kebiasaan. Hal-hal di luar kebiasaan itulah yang kemudian dianggap salah atau tidak normal. Butuh penjelasan panjang lebar untuk mengklarifikasinya. Dan aku malas berdebat akan hal itu.
"Jadi, jawabanku untuk pertanyaan awalmu itu, tujuan. Jika kau tanya kenapa, karena cinta menurutku memberi rasa aman, ia akan tahu kapan dan di mana harus menunggu dan berjuang," ucapku kemudian berjalan menuju parkir belakang. Motorku berada di sana. Aku ingin pulang, mandi, kemudian tidur awal. Cukup begitu saja, itu sudah menyenangkan. 
 

Sabtu, 14 Maret 2015

Ruang Tunggu

Selamat sore. Teduh menggelayut manja di langit Yogyakarta. Hawanya membuat mata nyaman terpejam.
Beberapa hari lalu, di tengah dini hari itu, aku menuliskan sesuatu untukmu. Beberapa orang percaya, ketika kau tak mampu mengatakan apapun, maka menulislah. Ia terkadang menjadi sebuah bentuk kejujuran yang ingin kau sampaikan. Ketika ucapmu terbatas, pikiran dan tulisanmu tidak. Ia mampu menyampaikan lebih dari yang sanggup kau ucapkan. Maka, semoga suatu hari nanti, entah sengaja ataupun tidak. Ketika masanya tiba, kau dapat membaca sesuatu yang aku simpan.

Aku selalu suka membaca tentangmu berulang-ulang. Mengorek memori manis, lalu memutarnya lagi. Aku mau ia selalu hangat. Disimpan kemudian ku konsumsi sendirian. Biar nanti ku santap ketika rindu atau tak mampu bertemu.
Tapi akhir-akhir ini aku membaca semua tentangmu tanpa alasan rindu atau tak bisa bertemu. Aku hanya ingin terus mengingatmu.
Kini kita sampai pada penantian yang mulai menegangkan. Ruang tunggu kita mulai ditata lebih serius. Catnya kita ubah, sofa empuknya kita ubah. Camilan-camilannya pun kita ubah.
Pendewasaan mungkin. Biar saja kita mampu lewati semua suasana. Biar saja kita tak manja pada keadaan.
Biar saja penantian kita tak hanya tentang gula kapas. Manisnya akan membuat kita bosan perlahan. Biar ia tahu realita, bahwa cinta tak hanya tentang manis, pahit pun.
Aku cukup menggenggam tanganmu, percaya pada apa yang telah kita percayai sebelumnya. Biar nanti waktu yang kemudian membuktikan.
Aku selalu suka mengamatimu lama-lama, merekam semua senti dari rautmu. Menghapal lekuk wajahmu, biar nanti tidak layu dan pudar. Aku takut otakku tak berfungsi baik, maka ku ingat semua tentangmu. Biar saja, aku menyayangimu. Biar saja.

Taman Siswa, 9 Maret 2015. Pukul 01:43

Rabu, 25 Februari 2015

Gelas-Gelas Kaca #1

Namanya Lucia. Tokoh dalam cerita yang kubuat. Dia akan kuberi kecantikan melebihi wanita lain di sekitarnya. Tingginya sekitar 172cm, dengan tubuh sintal. Matanya indah. Korneanya berwarna coklat dengan sinar kecerdasan yang begitu terpancar. Jari-jarinya lentik dengan kuku cantik terawat. Rambutnya panjang, hitam, lebat, halus, dan lurus. Begitu kontras dengan kulitnya yang putih, mulus. Tanpa luka atau goresan sedikit pun. Bibirnya penuh dan berwarna merah muda alami. Pantas, setiap lelaki akan memujanya. Memuja kecantikan yang tokohku ini miliki. Mereka akan berlomba-lomba mendapatkan hati Lucia-ku. Namun Lucia bukan wanita kebanyakan, kataku. Otaknya memiliki kemampuan lebih. Aku tak suka wanita cantik yang tak berotak. Maka ku buat Lucia-ku ini menjadi wanita cantik yang berotak pula.
Lucia memiliki kecerdasan yang membanggakan. Dia adalah pebisnis andal. Dia menjalankan roda perusahaan warisan ayahnya. Sebuah bisnis di bidang property. Bisnis yang begitu menjanjikan. Sebagai pelengkap bahwa dia memang wanita berbibit unggul, aku membuatnya menjadi sarjana terbaik di universitasnya. Kataku, aku tak akan membuat Lucia-ku biasa saja, bukan?
Malam itu, seperti wanita modern pada umumnya, Lucia menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya. Ya, Lucia tak hanya pintar dan cantik, namun pribadi yang menyenangkan. Dengan balutan mini dress hitam dan rambut yang digerainya, Lucia hanya perlu mengedipkan mata jika mau mengundang lelaki untuk mendekati. Sebatang rokok dinyalakan, ia isap dalam-dalam. Dibiarkannya nikotin dan tar masuk ke mulut lalu dikeluarkan dalam bentuk asap. Malam itu, Lucia baru saja menyelesaikan bisnisnya dengan para investor dari Singapura. Mereka mau menanamkan modal dalam pembangunan apartemen baru yang dikelola olehnya. Bagi Lucia, hari-hari seperti itu bukan lagi sebuah hari yang menggembirakan. Lucia sudah terbiasa berbisnis lintas negara.
Diteguknya segelas wine perlahan.
"Lucia, apa kamu tidak bosan dengan kesibukanmu seperti ini?" tanya salah seorang dari mereka sambil mengisap rokok dalam-dalam. Ia Karel, desainer sekaligus pemilik butik kenamaan di Indonesia.
Lucia membuang sisa-sisa abu di ujung rokoknya pada sebuah asbak. Diisapnya lagi, kali ini lebih dalam. Senyumnya merekah.
"Untuk apa bosan? Kalaupun aku bosan, semua tidak akan berubah, kan? Matahari juga akan tetap terbit dari timur, tenggelam di barat?" jawab Lucia-ku.
Mereka semua terkekeh. Termasuk si penanya. Wanita-wanita kosmopolitan cantik itu terbiasa berpesta. Bergelut dengan pekerjaan pada separuh hari mereka, lalu menghabiskan malamnya bersama. Entah hanya sekadar mengobrol di taman, cafe, atau di diskotik. Pulang pagi hari dalam keadaan mabuk. Namun Lucia-ku lagi-lagi berbeda. Ia tahu bahwa alkohol itu memabukkan, maka ia hanya menenggaknya pada batas kesadaran. Ia wanita cerdas dalam semua hal. Ia tak mau terlihat buruk ketika mabuk.
"Ah, kau Lucia. Hidupmu hanya kau habiskan dengan bekerja dan berpesta malam harinya. Apa kau tak kesepian?" tanya seseorang lainnya yang sudah hampir hilang kesadaran. Tubuhnya sudah limbung, disandarkan lemah di sofa empuk itu. Namanya Layana, sosialita simpanan pejabat.
Lucia dan lainnya hanya terkekeh melihat wanita yang terbiasa dengan dandanan super wah itu dalam keadaan mabuk. Make up-nya sudah luntur berantakan. Rambutnya sudah tidak teratur.
"Aku kesepian? Lalu untuk apa aku tetap bersama kalian hampir setiap malam?" jawab Lucia sambil terus mengisap Marlboro-nya. Sudah bungkus kedua malam ini. Lucia-ku sebenarnya perokok berat. Hanya saja, ketika bertemu klien, ia harus menjaga etikanya. Bukankah sudah wajar, seorang wanita pada zaman ini merokok? Jangan protes. Dia tokohku, maka kubuat sesukaku.
Kini wanita berkacamata yang cantik menggenggam tangan Lucia. Senyumnya sumringah. Dia Helga. Sahabat sekaligus saingan Lucia di universitasnya dulu. Mereka selalu berlomba untuk mendapatkan nilai terbaik, tetapi Lucia-ku yang pada akhirnya mendapatkan predikat lulusan terbaik itu.
Helga tak henti-hentinya menggenggam erat tangan Lucia. Lucia pun mendaratkan kecupan lembut di bibir Helga. Sudah beberapa bulan ini kubuat Lucia tak kesepian. Biar saja Lucia, wanita cantikku ini bermesraan dengan wanita lainnya. Aku tak mau ia terluka oleh lelaki. Aku tak mau ia seperti ibunya. Membunuh suaminya sendiri dan berakhir di Rumah Sakit Jiwa.
Aku hanya melindungi hatinya, dan beruntungnya Helga ternyata telah menyimpan lama perasaan itu.
Bukankah, katanya cinta itu tak pernah salah? Jadi tak salah, jika Helga kemudian mencintai Lucia?
Perasaan itu kutumbuhkan ketika terakhir kali Lucia memeluk Helga beberapa bulan lalu. Malam itu, Helga menangis setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan seorang model di hotel. Namun Lucia-ku datang dan membawa Helga ke sebuah pantai. Dipeluknya erat sahabat itu, lalu Helga hanya terdiam. Ia melakukan pengakuan. Telah lama disimpannya dalam-dalam perasaan yang entah apa namanya. Namun karena takut Lucia menghindar, maka ia berusaha menghilangkannya.
Lucia hanya menatap Helga dalam. Helga mengecupnya perlahan. Lalu kujentikan jariku, membubuhkan perasaan yang sama di hati Lucia. Biar saja Lucia merasakan cinta yang tidak akan menyakitinya.
Dan sampai saat ini, cinta itu bertumbuh dan ranum. Ia ditumbuhkan dengan jalan yang di luar dugaan kebanyakan wanita.

Senin, 26 Januari 2015

Pencari Ketenangan

Apa yang kau cari dari sebuah ketenangan?
Bukankah terkadang ia menyiksa? Membiarkanmu sendirian, tanpa bunyi tanpa kata, tanpa tanya?
Apa yang kau cari dari sebuah ketenangan?
Bukanlah tenang membuatmu tertidur nyaman? Bukanlah ia membunuh perlahan?
Sinar datang tanpa kau tahu tandanya. Semua bergerak tanpa sanggup kau cerna lagunya. Senandung lirih nan indah tak kau dengar. Ia hilang pada akhirnya. Lalu apa yang kau cari dari tenang? Bahkan tenang yang aku punya mampu menyayat lebih dari pekikan.
Apa yang kau cari dari hidup yang tenang, manusia? Bisa saja tenang membawamu pada kematian. Ketika ribuan orang bergegap gempita, merayakan bahagia. Kau tak merasakannya. Telingamu tenang. Hatimu tenang. Tapi jiwamu, entah.
Apa yang kau cari dari ketenangan? Pernahkah kau belajar dari ketulian? Bahkan mereka rindu pada suara, jeritan, dan makian. Mereka rindu pada gendang telinga yang menangkap bunyi-bunyi lain di luar suara otaknya. Pernah belajar pada ketulian?
Layaknya menatap rentetan peristiwa tanpa tahu alur ceritanya. Kau tak mampu mendengar, hanya mampu menikmati visualnya.
Bahkan, apa yang kau cari dari ketenangan? Ketika bunyi-bunyian tak kau tangkap, sedang visual tak mampu kau cerna. Pernah belajar apa kau tentang pencerahan? Bahwa dari matamu saja engkau buta. Apa yang kau cari dari ketenangan? Bukankah terkadang tenang itu menyesatkan? Diselubungi gelap, dikelilingi senyap. Lalu tahu apa kau tentang ketenangan? Kau hanya akan ketakutan, ketika gelap dan senyap mulai membosankan. Apa yang kau cari dari ketenangan, manusia? Jika pada akhirnya yang kau cari itu tak mampu kau nikmati. Kau tak melihat dan tak mendengar. Kau tak mampu berjalan dan tak mampu menimbang. Kau tuli dan buta, manusia. Tenang yang kau harapkan membuatmu tak berguna. Kau lebih tuli dari mereka yang tuli. Kau pun lebih buta dari mereka yang buta. Kau pencari ketenangan? Carilah.