Entah Pagi ke Berapa

Selamat awal pagi.
Entah pagi ke berapa yang aku habiskan hanya untuk ku bunuhi.
Sudah memasuki Mei minggu ke dua. Bulan di mana pada tahun-tahun sebelumnya banyak yang dirapal. Pengharapan yang masih mengayun manis.

Entah pagi ke berapa yang diawali dengan segala kekosongan pikir. Berkelana imajinasi menembus batas-batas ruangan. Kamar berantakan bercat pink. Kesepian yang terwujud dengan amat sangat eksplisit. Dibumbui hening yang tercipta pada sepertiga malam.

Entah pagi ke berapa. Sepertinya sekarang berkawan sepi adalah kewajaran. Semakin bertambah usia dan sebagainya, wajar untuk merasa kesepian. Tanpa perintah dari mulut-mulut manis ibu atau ayah di angka 10 malam. Perintah mencuci kaki dan tangan. Perintah berdoa, matikan lampu, dan pejamkan mata.

Sepertinya sepi adalah sebuah kewajaran. Sama seperti waktu yang kubunuhi atau membunuhi. Ia kewajaran dari rotasi bumi pada matahari. Berulang dengan detik yang itu-itu saja. Angka satu sampai 12 di putaran jam dinding. Angka satu hingga 30 untuk tiap hari dalam bulan normal. Dan hitungan-hitungan yang itu-itu saja. Sebuah kewajaran.

Entah pagi ke berapa yang menjadikan sepi adalah kewajaran. Bermanja dengan kasur dan televisi yang pemainnya asik sendiri. Dengan handphone yang tak lepas dari tangan. Seolah pelekat dipasang erat lalu mengering. Ia hanya akan jatuh ketika mata menutup atau baterai sekarat.

Seperti mencintai hal kosong. Pikiran melaju tanpa arah dan tujuan. Yang ia tahu hanya lebih baik berjalan. Lampu eletrik yang katanya hemat listrik menyala di atas kepala. Pedih mata terhunus cahaya. Sayangnya, seperti mencintai hal kosong. Otak tak mampu memproses apa-apa. Sepertinya ia mulai tua.

Entah pagi ke berapa aku mencintai kekosongan. Berjalan pada lapuk dan goyang. Padahal ada titian kuat di hadapan. Seperti baju-baju berserakan padahal almari siap menyimpan.
Di dalam kamar pink seperti kandang. Sesosok tubuh yang takut berharap, menikmati posisi tidurnya bersama seprai tergulung badan. Dikelilingi kertas berserak. Menurutnya kamar yang hangat namun tidak nyaman. Tidak ramai tapi damai. Damai yang sepertinya dipaksakan agar betah lama-lama di perantauan.

Entah pagi ke berapa yang hilang tujuan. Sepertinya hidup pun enggan. Mati pun takut jahanam. Dasar manusia tak punya pegangan. Masa depan apa yang diharapkan. Masa lalu apa yang ingin kau kenangkan. Biar saja mati ditelan waktu dan tengah malam.

Entah pagi ke berapa.

*Entah tulisan ini untuk apa. Sesuatu tentang sepi di awal pagi. Tentang rindu masa kecil. Tentang kesemua yang menjadikan kekosongan. Tentang pikiran yang sesat. Tentang waktu. Tentang takut. Tentang pagi yang wajar*

Komentar

  1. entah tulisan keberapa yang kubaca, dan hampir semua isiny sama. sepertinya kau harus mengambil waktu untuk liburan, Nak. pergilah ke tempat tanpa sekat, hirup udaranya dan nikmati suasa damainya.
    Sunset yuk! haa

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha. tapi entah jawaban ke berapa yang bakal ku lontarkan dengan kata "duuuh meil. maaf, tapi tidak bisa sekarang," hahaha.

      Hapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Wangi

Dialog Dini Hari