Postingan

Menampilkan postingan dari 2014

Pesan dari Anak Zaman

Selamat malam. Senin malam di Keadilan dengan diiringi gemericik hujan membuatku mengingat sebuah pesan yang seharusnya aku berikan kepada orang tuaku. Entah seharusnya kuberikan jauh hari sebelum ini atau nanti, ketika mereka menuntut salah satu kewajibanku. Memiliki dua keluarga memang tidaklah mudah. Namun bukan berarti karena ketidakmudahan itu, aku harus menjadi pendurhaka.
Pesan yang kutuliskan di facebook ini muncul ketika aku merasa menjadi bagian dari Keadilan. Entah. Namun aku bukan tipe pembangkang dan bukan pula penurut. Aku bergerak dengan otakku sendiri dan rasionalisasinya. Begini tulisanku ketika itu:
Mamaku yang terhormat... selamat sore...
Semoga senja yang indah tengah berpose di depan mata hitammu itu...
Aku adalah anak yang hampir dua puluh tahun ini kau didik...
Dengan tangan yang tak hanya mengajariku kelembutan, namun juga kerasnya kehidupan...
Mama yang senyumnya menjadi selimut dari malam-malam dinginku...
Untuk hari yang entah keberapa ribu dalam hidupku...
Aku ber…

Setiap Ucapan Selamat Tinggal

Yogyakarta, 17 November 2014.
Selamat tergelincirnya dhuhur menuju asyar. Sebelumnya selamat ulangtahun teruntuk Mudzakir yang ke-22 dan Ismail Sani A.M yang ke-21. Entah kalian akan membaca ini atau tidak, saya hanya ingin mengucapkan selamat dan berdoa segala yang terbaik untuk kalian.
                            ****
Ini tahun keduanya berada di sebuah keluarga kedua di Yogyakarta. Mengapa keluarga kedua? Mereka tidak terlahir dari rahim yang sama ataupun induk sperma yang sama. Mereka berasal dari perbedaan yang dibenturkan. Mungkin pula, pada awal pendaftaran, mereka tidak memiliki tujuan yang sama. Mereka terdiri dari masing-masing kepala berotak yang mungkin pula sampai detik dia menuliskan ini, isi otak mereka pun masih berbeda. Mengapa keluarga kedua? Sampai saat ini dia tidak tahu. Mungkin bukan tidak tahu, lebih tepatnya tidak ada definisi akan hal itu. Mungkin pula dia telah jatuh cinta dengan organisasi ini. Dengan manusia-manusia di dalamnya. Dengan pikiran-pikiran merek…

kisah tanpa judul #1

Antara peron dan ruang tunggu pengantar pada stasiun terpisahkan pagar besi. mereka saling menatap heran, lelaki berjaket merah itu mendekat. Ada yang beda pada mata Lily. Sembab. Dia tak sadar apa yang dilakukannya ketika tiba-tiba dia telah berdiri di hadapan wanita pucat pasi itu. Lily memakai gaun putih selutut, dengan rambut tergerai. Indah sebenarnya, hanya kepucatan di wajah sendu itu yang membuatnya seolah-olah lebih tua. Dari balik pagar peron, Gia memberikan selembar tisu. Lily terkejut pada lelaki yang tak pernah dia kenal sebelumnya. Di tatapnya lelaki itu. Matanya yang teduh dan bibir kecil dengan raut datar. Seolah dikomando, tangan kurus itu menerima tisu yang diberikan Gia. Lily tertunduk tanpa tahu maksud Gia. "stasiun itu tempat pertemuan dan perpisahan, mbak. dan saya yakin perpisahan selalu membuat luka. di sini lah tempat luka, haru, perjumpaan, perpisahan, air mata dan kebahagiaan bercampur..." ucap Gia seraya mengambil posisi duduk membelakangi Lily. L…