Pos

Menampilkan postingan dari April, 2015

Gelas-Gelas Kaca #2

"Jika memilih antara tujuanmu atau cinta, apa yang akan kamu pilih?"
Sore itu, di gelanggang olahraga Sazki bertanya tiba-tiba. Aku hanya menyeka pelan keringat di dahiku, kemudian membuka botol air mineral dan meneguknya. Sehabis latihan bulu tangkis, rasanya tenagaku dikuras habis. Ion-ion -yang kata iklan di televisi itu- menguap bersama keringat yang keluar. Untuk mencerna pertanyaan Sazki menjadi hal yang sulit. Atau mungkin aku yang sedikit enggan melakukannya.
"Menurutku, memilih itu adalah sebuah peluang. Kau ingat kan, rumus peluang dalam matematika? Ya, itu. Ketika kita memiliki peluang, ya artinya selalu ada pengorbanan pula. Jika salah satunya harus dipilih, maka salah satunya harus dikorbankan. Ya, begitulah kira-kira," jawabku sambil memasukan raket ke dalam tas. Sazki sudah dalam posisi duduk bersandar pada tempat duduk di tribun gelanggang. Aku kemudian menyusulnya duduk, menikmati detik-detik di mana hawa panas dari tubuh mengalami penurunan. Melur…