Pos

Menampilkan postingan dari 2015

Wangi

Beberapa bunga menganggap dirinya terus mewangi sendiri. Dan beberapa bunga lainnya mencoba tetap mempertahankan wanginya. Bunga-bunga itu bisa saja memilih untuk gugur, namun enggan. Di benaknya, gugur tanpa meninggalkan wangi adalah kesalahan. Setidaknya ada bagian dari anak-cucunya yang nanti memberi wangi di tanahnya.
Bertahan dari situasi yang tidak menghidupi adalah kekuatan. Tetapi yang terjadi adalah disalahkan keadaan.
Cabut saja setiap bunga yang tak mewangi, jika memang taman ini hanya untuk bunga yang wangi. Sebab bunga tak wangi hanya menjadi beban tersendiri. Lalu cabut saja bunga yang mencoba mempertahankan wanginya, sebab sama saja ia tak lagi wangi sempurna.
Sudahi saja semua perang wangi dan tak wangi. Jelaskan garisnya. Biar yang melewati garis dibunuh saja. Sudah tidak dibutuhkan lagi bunga-bunga tak berotak. Yang taman ini butuhkan bunga mewangi yang mampu mempertahankan dirinya sendiri.
Kalau tidak, benahi saja semua wanginya. Apa benar wangi yang dimau adalah wa…

Hujan November Datang

Hujan November datang, kawanku. Ia membangunkan dari kering yang mulai mengaduk-aduk emosi.
Hujan November pulang, kawanku. Ia mengetuk daun-daun yang layu di dahannya sendiri. Menetes pada hati-hati manusia yang mulai berprasangka. Membenci keadaan yang mulai tak bersahabat. Meneriaki kenangan yang memunggungi.
Hujan November senang, kawanku. Ia menari di atas gemericiknya sendiri. Bersenandung bersama melodi-melodi minor dari dawai penyendiri. Meniup-niup halimun menerbangkan gerimis. Menimang para pemimpi di siangnya yang dingin.
Hujan November menang, kawanku. Amarah larut pada syukur. Benci beradu rindu. Mendung benar, ia hujan sekarang.
Kini sedih tahu tempatnya tumpah, kawanku. Hujan November memberinya pelukan. Risau tak lagi berjalan tanpa genggaman. Gerimis telah menyentuh tepat pada sebabnya.
Hujan November mulai datang, sayangku. Tak ada lagi lelah yang tak dapat kau tangisi. Sebab kawan hujan, selain tawa gembira bocah-bocah bertelanjang kaki, juga airmata para penggel…

Entah Pagi ke Berapa

Selamat awal pagi.
Entah pagi ke berapa yang aku habiskan hanya untuk ku bunuhi.
Sudah memasuki Mei minggu ke dua. Bulan di mana pada tahun-tahun sebelumnya banyak yang dirapal. Pengharapan yang masih mengayun manis.Entah pagi ke berapa yang diawali dengan segala kekosongan pikir. Berkelana imajinasi menembus batas-batas ruangan. Kamar berantakan bercat pink. Kesepian yang terwujud dengan amat sangat eksplisit. Dibumbui hening yang tercipta pada sepertiga malam.Entah pagi ke berapa. Sepertinya sekarang berkawan sepi adalah kewajaran. Semakin bertambah usia dan sebagainya, wajar untuk merasa kesepian. Tanpa perintah dari mulut-mulut manis ibu atau ayah di angka 10 malam. Perintah mencuci kaki dan tangan. Perintah berdoa, matikan lampu, dan pejamkan mata.Sepertinya sepi adalah sebuah kewajaran. Sama seperti waktu yang kubunuhi atau membunuhi. Ia kewajaran dari rotasi bumi pada matahari. Berulang dengan detik yang itu-itu saja. Angka satu sampai 12 di putaran jam dinding. Angka satu hing…

Gelas-Gelas Kaca #2

"Jika memilih antara tujuanmu atau cinta, apa yang akan kamu pilih?"
Sore itu, di gelanggang olahraga Sazki bertanya tiba-tiba. Aku hanya menyeka pelan keringat di dahiku, kemudian membuka botol air mineral dan meneguknya. Sehabis latihan bulu tangkis, rasanya tenagaku dikuras habis. Ion-ion -yang kata iklan di televisi itu- menguap bersama keringat yang keluar. Untuk mencerna pertanyaan Sazki menjadi hal yang sulit. Atau mungkin aku yang sedikit enggan melakukannya.
"Menurutku, memilih itu adalah sebuah peluang. Kau ingat kan, rumus peluang dalam matematika? Ya, itu. Ketika kita memiliki peluang, ya artinya selalu ada pengorbanan pula. Jika salah satunya harus dipilih, maka salah satunya harus dikorbankan. Ya, begitulah kira-kira," jawabku sambil memasukan raket ke dalam tas. Sazki sudah dalam posisi duduk bersandar pada tempat duduk di tribun gelanggang. Aku kemudian menyusulnya duduk, menikmati detik-detik di mana hawa panas dari tubuh mengalami penurunan. Melur…

Ruang Tunggu

Selamat sore. Teduh menggelayut manja di langit Yogyakarta. Hawanya membuat mata nyaman terpejam.
Beberapa hari lalu, di tengah dini hari itu, aku menuliskan sesuatu untukmu. Beberapa orang percaya, ketika kau tak mampu mengatakan apapun, maka menulislah. Ia terkadang menjadi sebuah bentuk kejujuran yang ingin kau sampaikan. Ketika ucapmu terbatas, pikiran dan tulisanmu tidak. Ia mampu menyampaikan lebih dari yang sanggup kau ucapkan. Maka, semoga suatu hari nanti, entah sengaja ataupun tidak. Ketika masanya tiba, kau dapat membaca sesuatu yang aku simpan.Akuselalusukamembacatentangmuberulang-ulang. Mengorekmemorimanis,lalumemutarnyalagi. Akumauiaselaluhangat. Disimpankemudiankukonsumsisendirian. Biarnantikusantapketikarinduatautakmampubertemu.
Tapiakhir-akhiriniakumembacasemuatentangmutanpaalasanrinduatautakbisabertemu. Akuhanyainginterusmengingatmu.
Kinikitasampaipadapenantian yang mulaimenegangkan. Ruangtunggukitamulaiditatalebihserius. Catnyakitaubah, sofa empuknyakitaubah. Camilan

Gelas-Gelas Kaca #1

Namanya Lucia. Tokoh dalam cerita yang kubuat. Dia akan kuberi kecantikan melebihi wanita lain di sekitarnya. Tingginya sekitar 172cm, dengan tubuh sintal. Matanya indah. Korneanya berwarna coklat dengan sinar kecerdasan yang begitu terpancar. Jari-jarinya lentik dengan kuku cantik terawat. Rambutnya panjang, hitam, lebat, halus, dan lurus. Begitu kontras dengan kulitnya yang putih, mulus. Tanpa luka atau goresan sedikit pun. Bibirnya penuh dan berwarna merah muda alami. Pantas, setiap lelaki akan memujanya. Memuja kecantikan yang tokohku ini miliki. Mereka akan berlomba-lomba mendapatkan hati Lucia-ku. Namun Lucia bukan wanita kebanyakan, kataku. Otaknya memiliki kemampuan lebih. Aku tak suka wanita cantik yang tak berotak. Maka ku buat Lucia-ku ini menjadi wanita cantik yang berotak pula.
Lucia memiliki kecerdasan yang membanggakan. Dia adalah pebisnis andal. Dia menjalankan roda perusahaan warisan ayahnya. Sebuah bisnis di bidang property. Bisnis yang begitu menjanjikan. Sebagai pe…

Pencari Ketenangan

Apa yang kau cari dari sebuah ketenangan?
Bukankah terkadang ia menyiksa? Membiarkanmu sendirian, tanpa bunyi tanpa kata, tanpa tanya?
Apa yang kau cari dari sebuah ketenangan?
Bukanlah tenang membuatmu tertidur nyaman? Bukanlah ia membunuh perlahan?
Sinar datang tanpa kau tahu tandanya. Semua bergerak tanpa sanggup kau cerna lagunya. Senandung lirih nan indah tak kau dengar. Ia hilang pada akhirnya. Lalu apa yang kau cari dari tenang? Bahkan tenang yang aku punya mampu menyayat lebih dari pekikan.
Apa yang kau cari dari hidup yang tenang, manusia? Bisa saja tenang membawamu pada kematian. Ketika ribuan orang bergegap gempita, merayakan bahagia. Kau tak merasakannya. Telingamu tenang. Hatimu tenang. Tapi jiwamu, entah.
Apa yang kau cari dari ketenangan? Pernahkah kau belajar dari ketulian? Bahkan mereka rindu pada suara, jeritan, dan makian. Mereka rindu pada gendang telinga yang menangkap bunyi-bunyi lain di luar suara otaknya. Pernah belajar pada ketulian?
Layaknya menatap rentetan …