Sabtu, 07 November 2015

Hujan November Datang

Hujan November datang, kawanku. Ia membangunkan dari kering yang mulai mengaduk-aduk emosi.
Hujan November pulang, kawanku. Ia mengetuk daun-daun yang layu di dahannya sendiri. Menetes pada hati-hati manusia yang mulai berprasangka. Membenci keadaan yang mulai tak bersahabat. Meneriaki kenangan yang memunggungi.
Hujan November senang, kawanku. Ia menari di atas gemericiknya sendiri. Bersenandung bersama melodi-melodi minor dari dawai penyendiri. Meniup-niup halimun menerbangkan gerimis. Menimang para pemimpi di siangnya yang dingin.
Hujan November menang, kawanku. Amarah larut pada syukur. Benci beradu rindu. Mendung benar, ia hujan sekarang.
Kini sedih tahu tempatnya tumpah, kawanku. Hujan November memberinya pelukan. Risau tak lagi berjalan tanpa genggaman. Gerimis telah menyentuh tepat pada sebabnya.
Hujan November mulai datang, sayangku. Tak ada lagi lelah yang tak dapat kau tangisi. Sebab kawan hujan, selain tawa gembira bocah-bocah bertelanjang kaki, juga airmata para penggelisah.
Hujan November datang, kawanku. Ia datang. Buka jendelamu, lalu rasakan. Ia memberi pelukan, kejutan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar