Gelas-Gelas Kaca #2

"Jika memilih antara tujuanmu atau cinta, apa yang akan kamu pilih?"
Sore itu, di gelanggang olahraga Sazki bertanya tiba-tiba. Aku hanya menyeka pelan keringat di dahiku, kemudian membuka botol air mineral dan meneguknya. Sehabis latihan bulu tangkis, rasanya tenagaku dikuras habis. Ion-ion -yang kata iklan di televisi itu- menguap bersama keringat yang keluar. Untuk mencerna pertanyaan Sazki menjadi hal yang sulit. Atau mungkin aku yang sedikit enggan melakukannya.
"Menurutku, memilih itu adalah sebuah peluang. Kau ingat kan, rumus peluang dalam matematika? Ya, itu. Ketika kita memiliki peluang, ya artinya selalu ada pengorbanan pula. Jika salah satunya harus dipilih, maka salah satunya harus dikorbankan. Ya, begitulah kira-kira," jawabku sambil memasukan raket ke dalam tas. Sazki sudah dalam posisi duduk bersandar pada tempat duduk di tribun gelanggang. Aku kemudian menyusulnya duduk, menikmati detik-detik di mana hawa panas dari tubuh mengalami penurunan. Meluruskan kaki, meregangkan otot-otot yang sedikit tegang. Sepertinya pemanasanku tadi sedikit kurang.
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Kay. Aku bertanya, mana yang akan kau pilih? Untuk peluang dan pengorbanan, ya memang benar. Entah analogimu tentang hal-hal ini," protesnya. Aku terkekeh. Ya, aku memang tak menjawab pertanyaannya, aku hanya tengah berteori. Lagi-lagi kucerna tanyanya. Aku rasa ini pertanyaan serius. Sebagai teman, mau tak mau aku harus memberikannya jawaban yang setidaknya membantunya berpikir. Tetapi, setiap pertanyaan pasti memiliki dasar. Aku tak ingin menjawab tanpa tahu kondisi sebenarnya.
"Apa yang membuatmu bertanya hal semacam ini, Saz? Kamu dalam kondisi ini?"
Wanita berambut sebahu ini terdiam. Di tatapnya langit-langit gelanggang. Dia menahan emosinya, ku rasa.
"Mungkin iya, mungkin tidak," jawabnya sambil mengarahkan matanya padaku. Aku tahu dia dalam posisi itu. Bola matanya mengisyaratkan keraguan.
Ku hirup udara pelan-pelan. Membiarkannya masuk untuk menenangkan tubuhku. Aku harap, ia mampu menurunkan suhu tubuhku perlahan.
"Kataku tadi, setiap pilihan memerlukan pengorbanan. Karena dalam pilihan itu terkandung peluang. Ketika kau memilih tujuanmu, maka rasa yang tadi kau sebut cinta itu, menjadi pengorbanan yang harus kau lakukan. Sebaliknya pun begitu. Sama saja hasilnya. Hanya saja yang perlu dipikirkan, sejauh apa peluang itu akhirnya menguntungkanmu. Egois memang, namun ketika kasusnya saja tidak aku ketahui, paling aman ya kau pilih yang paling menguntungkan," jawabku sambil ikut menyandarkan tubuh pada salah satu tempat duduk di tribun gelanggang.
"Kalau kau, memilih yang mana?" tanyanya kembali.
Aku diam. Dalam kenyataan, aku belum pernah memilih hal semacam itu. Bagaimana bisa memilih. Salah satu dari keduanya pun untuk saat ini aku tak memilikinya.
"Aku tak punya keduanya, Saz. Aku belum memiliki master plan ke depannya, apalagi cinta. Untuk saat ini, aku masih tak bisa mendefinisikan apa itu cinta. Aku tak berani menyebut perasaan-perasaan yang dengan mudah muncul itu sebagai cinta, Saz," ucapku pada akhirnya.
Setiap memori kemudian berkelebat. Mengenai sosok-sosok yang pernah menyenangkan dan akhirnya membosankan. Sosok-sosok yang awalnya begitu meyakinkan lalu berakhir menyakitkan. Ya, dangkal ketika aku tak memercayai cinta hanya karena kisah-kisah picisan pada masa lalu. Namun sakit itu terkadang memiliki dua sisi. Ia bisa saja membuat ketagihan atau normalnya membosankan. Dan, aku memilih bosan pada rasa sakit. Mungkin bisa dianggap menyerah, biarlah. Hidup sebuah pilihan, bukan?
Kami saling berdiam. Sibuk pada pikiran kami masing-masing.
"Memangnya cinta itu seperti apa? Mungkin kita butuh membuat parameter-parameter terlebih dahulu agar pertanyaanku dapat kau jawab," ucapnya kemudian. Aku terkekeh. Untuk percakapan santai seperti ini saja kami butuh membuat sistematikanya. Ah, dasar.
"Kau ini aneh, Saz. Kalau menurutku, cinta itu bebas definisinya. Siapa yang mampu membuat definisi cinta itu sama bagi setiap orang? Dangkal, ketika cinta itu dapat didefinisikan. Kau tahu? Terkadang sesuatu hal yang didefinisikan malah menyempitkan makna aslinya. Biarkan saja, cinta menurutku dan menurutmu itu berbeda. Boleh saja kau mendefinisikan cinta itu memabukkan, indah, menyenangkan, dan segala macamnya. Bisa pula aku mendefinisikan cinta itu sakit dan semacamnya. Tapi yang aku yakini, cinta itu salah satu bentuk dari ketertarikan yang telah menempuh beberapa proses. Secara definisi, aku tak berani mematoknya, biar saja cinta itu tidak terdefinisi. Cinta itu butuh ke-liar-an, kupikir. Hahaha," jawabku panjang lebar kemudian tertawa. Aneh dan sedikit menjijikan membahas hal semacam itu terlalu dalam. Melankolis.
Sazki hanya terdiam, kemudian menunduk. Ditopangnya dagu di antara kedua lutut. Dia menerawang jauh ke depan. Aku masih menunggu reaksi selanjutnya. Reaksi tak terduga dari Sazki, teman bulutangkis yang sudah ku kenal lama.
"Kay, setelah terakhir berpacaran dengan lelaki bajingan kemarin itu, apa kau sudah merasa jatuh cinta lagi?"
"Ah, lelaki bajingan, hahaha. Ya, dia memang bajingan. Untuk saat ini, aku rasa aku tertarik pada beberapa orang. Tetapi, kuulangi lagi kata-kataku di awal, aku masih tidak mau terlalu jauh menganggap rasa tertarik itu sebagai cinta. Biar saja nanti, kalau cinta ya cinta, kalau tidak, aku tidak akan terluka. Begitu," jawabku.
Kini Sazki yang terkekeh. Dia menepuk pundakku. Katanya, aku mencari aman.
"Iya, aku mencari aman. Bahkan kalau pada akhirnya, aku tidak menemukan hal-hal aman dalam cinta, dan pada dasarnya cinta menjadi syarat utama pernikahan, maka aku bersedia untuk tidak menikah," jawabku seraya tersenyum kecut. Ya, aku telah berpikir sejauh itu. Banyak kegagalan yang aku lihat dan sedikit membuat kepercayaan akan ikatan pernikahan dan cinta itu memudar.
"Jadi, kau melanggengkan pernikahan tanpa cinta, asal kau merasa aman di dalamnya? Tanpa rasa sakit, Kay?"
"Ekstrimnya, ya. Jika pada akhirnya tuntutan untuk melanjutkan keturunan semakin kuat, sedangkan kepercayaanku terhadap rasa aman di dalam cinta tidak aku punya, maka aku akan memilih menikah dengan orang yang mampu memberikanku rasa aman saja. Tetapi, dia tidak banyak menuntut karena tahu aku tak akan memberikannya apa-apa,"
Sazki ternganga, baru kali ini dia mendengar pernikahan versiku. Pernikahan yang entah apa namanya, mungkin bukan pula disebut pernikahan pada hakikatnya. Sebab maknanya telah berubah menjadi pelegalan terhadap penerus keturunan semata.
"Tetapi, jika tidak ada tuntutan untuk melanjutkan keturunan itu, mungkin bisa saja aku memilih tidak menikah, Saz. Zaman sekarang, banyak wanita yang memilih menyerahkan hidupnya pada waktu dan pekerjaan. Selagi memiliki kesibukan dan teman-teman, aku rasa tidak akan kesepian. Jika menginginkan bayi, aku bisa mengadopsinya. Banyak manusia di luar sana, entah yang karena apa, salah satunya mengatasnamakan cinta, yang tega membuang bayi-bayi tidak berdosa. Jika pada akhirnya apa yang kemudian aku sebut cinta itu malah menyakiti, atau bahkan aku tak menemukan alasan untuk mencintai, aku memilih hidup dengan dicintai. Oleh teman-temanku, keluargaku, dan mungkin bayi adopsiku itu. Hahaha," lanjutku sebelum Sazki sempat bertanya lagi.
Dia semakin tak mampu mengontrol kekagetannya mendengar jawabanku. Baru kali ini aku mengutarakan semua ide gila yang bermunculan setelah serangkaian peristiwa yang terjadi dalam hidupku. Umurku telah menginjak 21 tahun. Aku yakin, semua hal berpengaruh pada perkembangan pola pikirku. Aku sadar pertikaian antara kedua orang tuaku yang berujung pada perceraian mereka, merupakan salah satu penyumbang terbesar dari ketidakpercayaanku pada sebuah ikatan pernikahan dengan cinta yang tidak matang di dalamnya. Lalu, pengalaman buruk lainnya juga merupakan elemen dasar dari pemikiranku sekarang. Pengalaman pada jatuh cinta berkali-kali, perselingkuhan, rasa sakit teramat, dan berbagai macam hal yang berhubungan dengan perasaan.
Aku percaya, pengalaman telah membentukku memiliki pola pikir yang aneh bagi kaum wanita. Ekstrim dan menakutkan. Bahkan jauh dari kesan normal. Desperate katanya. Tapi, biar saja. Toh tidak ada ruginya bagi orang lain.
"Kau menakutkan, Kay," ucap Sazki setelah beberapa waktu ternganga tak percaya. Aku hanya tertawa. Lalu berbenah. Ku masukkan handuk ke dalam tas, begitu juga botol air mineral yang sedari tadi kugenggam. Aku beranjak dari dudukku. Adzan maghrib telah berkumandang. Aku rasa percakapan seusai latihan bulu tangkis sore itu cukup sampai penghujungnya. Banyak yang tak perlu orang lain tahu. Sebab tak semua orang mampu mengerti dan mau menerima alasannya. Terkadang kebenaran universal menjadi norma yang dianggap paling benar, sedangkan kebenaran subjektif yang murni dari pemikiran dianggap di luar kebiasaan. Hal-hal di luar kebiasaan itulah yang kemudian dianggap salah atau tidak normal. Butuh penjelasan panjang lebar untuk mengklarifikasinya. Dan aku malas berdebat akan hal itu.
"Jadi, jawabanku untuk pertanyaan awalmu itu, tujuan. Jika kau tanya kenapa, karena cinta menurutku memberi rasa aman, ia akan tahu kapan dan di mana harus menunggu dan berjuang," ucapku kemudian berjalan menuju parkir belakang. Motorku berada di sana. Aku ingin pulang, mandi, kemudian tidur awal. Cukup begitu saja, itu sudah menyenangkan. 
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialog Dini Hari

Wangi

Setiap Ucapan Selamat Tinggal