Ruang Tunggu

Selamat sore. Teduh menggelayut manja di langit Yogyakarta. Hawanya membuat mata nyaman terpejam.
Beberapa hari lalu, di tengah dini hari itu, aku menuliskan sesuatu untukmu. Beberapa orang percaya, ketika kau tak mampu mengatakan apapun, maka menulislah. Ia terkadang menjadi sebuah bentuk kejujuran yang ingin kau sampaikan. Ketika ucapmu terbatas, pikiran dan tulisanmu tidak. Ia mampu menyampaikan lebih dari yang sanggup kau ucapkan. Maka, semoga suatu hari nanti, entah sengaja ataupun tidak. Ketika masanya tiba, kau dapat membaca sesuatu yang aku simpan.

Aku selalu suka membaca tentangmu berulang-ulang. Mengorek memori manis, lalu memutarnya lagi. Aku mau ia selalu hangat. Disimpan kemudian ku konsumsi sendirian. Biar nanti ku santap ketika rindu atau tak mampu bertemu.
Tapi akhir-akhir ini aku membaca semua tentangmu tanpa alasan rindu atau tak bisa bertemu. Aku hanya ingin terus mengingatmu.
Kini kita sampai pada penantian yang mulai menegangkan. Ruang tunggu kita mulai ditata lebih serius. Catnya kita ubah, sofa empuknya kita ubah. Camilan-camilannya pun kita ubah.
Pendewasaan mungkin. Biar saja kita mampu lewati semua suasana. Biar saja kita tak manja pada keadaan.
Biar saja penantian kita tak hanya tentang gula kapas. Manisnya akan membuat kita bosan perlahan. Biar ia tahu realita, bahwa cinta tak hanya tentang manis, pahit pun.
Aku cukup menggenggam tanganmu, percaya pada apa yang telah kita percayai sebelumnya. Biar nanti waktu yang kemudian membuktikan.
Aku selalu suka mengamatimu lama-lama, merekam semua senti dari rautmu. Menghapal lekuk wajahmu, biar nanti tidak layu dan pudar. Aku takut otakku tak berfungsi baik, maka ku ingat semua tentangmu. Biar saja, aku menyayangimu. Biar saja.

Taman Siswa, 9 Maret 2015. Pukul 01:43

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialog Dini Hari

Wangi

Entah Pagi ke Berapa