Dialog Dini Hari

Selamat dini hari,
Selamat datang di hari yang selalu menjadikanmu penasaran tiap tahunnya, Gar. Tidak pernah terlalu istimewa, bahkan untuk tahun ini, sepertinya tahun paling menyakitkan untukmu, ya. Tahun pertamamu tidak lagi di telepon oleh ayahmu, hanya untuk ucapan selamat ulang tahun. Kamu rindu ya, Gar? Menangislah sebanyak yang kamu mampu dan kamu mau. Itu tidak mengubah apapun, namun paling tidak, tertidurlah karena terlalu lelah menangis, Gar.
Apa yang kamu alami setahun belakangan? Selain trauma berlebihan atas kehilangan? Bagaimana kabar rasa syukurmu? Bertambah suburkah ia? Atau mati atas alasan yang sudah kusebutkan? Tak apa, aku selalu permisif untukmu.
Ayahmu, di sana. Jangan kecewakan beliau. Di hari ini, tepat 23 tahun lalu, tanpa seingatmu, ia berbahagia. Menerima amanah dengan suka cita dan penuh komitmen bertanggungjawab. Anak gadis yang menjadi bebannya. Kamu tumbuh baik, Gar. Sehat dan berkecukupan. Ceria dan berteman. Pemberontak tanggung. Diberi kebebasan untuk melangkah ke manapun kamu mau. Ayahmu menjagamu, dengan takutnya, dengan bebasnya. Betapa bangganya ia. Rangking yang bertengger manis di raport SD mu. Piagam yang kamu bawa pulang kala SMP itu. Tabungan full sejak SD. Nilai apik yang tak pernah henti kamu pamerkan. Betapa bangganya ia, ketika anaknya tumbuh baik dengan cukup. Berteman banyak dan peduli. Dianggap pintar dan baik di lingkungan sekitar. Patuh dan sopan. Betapa bangganya ia. Bunga yang ia tanam telah cukup baik ia rawat. Perjuangan yang begitu meremukkan hati dan badannya.
Dan pada saat yang telah Tuhan atur untuknya, ia pergi dalam pelukan semua anaknya. Dicukupkan oleh Tuhan-Nya segala sakit dan duka. Diangkat seluruh rapuhnya. Tubuhnya kaku dan dingin. Namun entah, kamu melihat ia terbaring dengan senyum dan tubuh yang sehat kan, Gar? Kamu tak pernah lepas memandangnya. Dari pembaringan hingga pembaringan. Kamu tak pernah lepas memandangnya, kan? Kamu tidak akan pernah lupa bagaimana rupa dan tuturnya? Bagaimana ia ajarkanmu tentang perubahan mendadak sebelum kematian?
Tepat 23 tahun ini. Apa yang sudah kamu lakukan 22 tahun ke belakang?
Ah, terlalu jauh. Bagaimana kalau, apa yang telah kamu lakukan satu hari yang lalu? dua hari yang lalu? atau tiga hari yang lalu?
Apa yang sudah kamu dapatkan satu tahun belakangan? Apa pencapaianmu? Tidak ada? Lalu, untuk apa kamu hidup setahun ke depan?
Baiklah, mari kita bercerita, mmmm, maksudku mari kita berbagi. Tentang apa saja.
Mau jadi apa kamu tahun lalu? Menyelesaikan skripsi? Tahun ini sudah selesai kah, Gar?
Sudah? Alhamdulillah. Semoga sukses, ujianmu!
Lalu, Januari kemarin, aku dengar, kamu melakukan perjanjian dengan waktu dan dirimu sendiri? Perjanjian apa itu jika boleh aku tahu.
Apa? Kamu berjanji untuk menjadi seseorang yang lebih bergerak dan produktif lagi?
Cukup baik, apa yang sudah kamu lakukan?
Mengikuti berbagai kegiatan? Oh, pelatihan waktu itu? Relawan? Lalu apa lagi? Membuka pembicaraan dengan banyak orang yang tidak kamu kenal? Bagus. Ada lagi? Mengikuti beberapa forum kajian? Wah menarik sekali sepertinya.
Apa yang kamu dapatkan? Kamu cukup berani keluar dari zona nyamanmu? Pelarianmu semenjak Ayahmu tiada? Rasanya seperti apa? Ah iya. Aku pernah mendengar bahwa kamu tidak memercayai siapa-siapa lagi sejak kepergian Ayahmu. Bahkan kamu merasa, kamu tidak lagi memiliki masa depan, ya? Memang begitu, sebagian manusia akan merasakan kehilangan arah dan pegangan ketika yang menjadi satu-satunya tumpuan menghilang. Apalagi kamu, ya Gar. Kamu menganggap ayahmu adalah alasan untuk menjadi selalu lebih baik. Selalu mendapat nilai yang baik. Namun ketika beliau pergi, maka kamu kehilangan arah dan tujuan. Tetapi, pernahkah kamu berpikir? Ayahmu tak menginginkanmu menjadi apa yang beliau mau. Ayahmu menginginkanmu berdiri di atas kakimu sendiri. Menjadi bunga yang akar dan batangnya kokoh. Kamu merasa kehilangan semuanya saat beliau tiada. Termasuk kehilangan dirimu sendiri, kan?
Aku dengar, pernah pada suatu pagi, kamu terbangun namun enggan terbangun. Ah bukan pada suatu pagi, tapi sering dalam pagi hari. Kamu takut menjalani hari-harimu ya, Gar? Kamu merasa sendirian ya, Gar? Kamu merasa sudah tidak hidup ya? Kamu merasa tidak memiliki tujuan. Eh tunggu dulu, aku sudah pernah bilang di atas. Kamu hanya kehilangan dirimu sendiri. Kamu mengikuti sesuatu tanpa melihat ke depan, Gar. Kamu mengikuti bayangnya. Lalu ketika hari sudah terang, kamu kehilangan semuanya. Apa Ayahmu akan bahagia jika ia masih hidup sekarang? Aku tahu, kamu tahu jawabannya.
Lalu, apa yang ingin kamu kerjakan saat ini? Apa? Terus mencoba keluar dari zonamu? Kamu harus mapan? Dalam hal apa? Materi? Oh bukan? Lalu? Mapan dalam soal kejiwaan dan pemikiran? Wah. Mengapa menginginkan hal macam itu, Gar? Oh, kamu mencari ketenangan? Semoga kamu miliki, Gar. Ada yang lain? Iya, aku tahu. Kan memang semua yang akan kamu lakukan pasti membuatmu menemukan dirimu sendiri, nantinya, Gar. Lalu apa usahamu? Baiklah, jika tidak mau menjawab. Hanya saja aku berpesan, lakukanlah yang kamu inginkan dan paling baik yang harus kamu lakukan. Ingat, ayahmu-ibumu, kakakmu-adikmu, kakekmu-nenekmu, mereka ada buat kamu. Mereka mendukung langkahmu. Baik langkah kecil maupun langkah besar.
Lalu, mau jadi apa kamu ke depannya? Apa? Tidak tahu? Umur sudah mulai habis, Gar. Masa kamu tidak memiliki cita-cita? Mau jadi berguna? Berguna bagi siapa, Gar? Semua manusia, katamu? Bagi maling, pencuri, koruptor, klepto? Waaaah. Baiklah, mereka memang manusia, tapi maukah kamu berguna bagi mereka? Oke, oke. Aku tahu, Gar. Kamu memang cukup sulit. Tapi aku rasa, kamu harus tahu mana yang terbaik bagimu dan sekitarmu. Berhati-hatilah. Waspada. Eling. Banyak bersyukur. Lembutkan hatimu. Pekakan hatimu. Tabahkan hatimu. Hidup tidak pernah mudah, kita sama-sama tahu. Jangan terlalu banyak bermain, atau kurang bermain. Semua harus cukup pada tempatnya. Kamu yang menentukan kiri-kanan. Kamu yang menentukan mau pakai sandal atau sepatu. Mau cepat atau lambat. Sering-seringlah mengundangku dalam percakapanmu, Gar. Biar kita terus saling berdialog. Biar ada yang menanyakan kabarmu dan ambisimu. Biar ada yang menanyakan syukurmu kemudian lelahmu. Biar kamu tidak merasa sendirian dengan kebuntuan. Mari, Gar. Semoga bertambah angka pada usia manusiamu, tidak membuatmu cepat lelah dan terlalu kaku. Semoga semakin bijak dan penuh syukur. Semoga semakin mapan pola pikir dan kedewasaan. Semoga menjadi teladan dan kebanggaan. Semoga selalu penuh kasih kepada manusia dan alam raya. Semoga tidak membuang makanan semaunya, tidak membuang sampah seenaknya, tidak menyia-nyiakan yang sulit dimiliki oleh orang lain di luar sana. Kurangi konsumtif lalu perbanyak produktif. Aamiin. Selamat menjalani 11 Mei-mu, Gar. Semoga awal baru yang baik. Temui banyak orang!  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wangi

Entah Pagi ke Berapa