Teruntuk Kakanda

teruntuk kakanda di suatu tempat tak tergapai jemari..
malam telah larut menyisakan cerita pagi... namun rembulan tak benar-benar bertengger di singgasana agung, sedang para bintang masih tertidur di bawah kelambu enggan menebar kerling sendu. desau angin malam ini mengalun menembus rindu, mengristalkan kangen pada lalu.
teruntuk kakanda yang teramat jauh dari pandangan...
sudikah kiranya engkau memeluk cintaku yang tak bertuan.
ia terlalu lama mengapung pada samudra ketiadaan, terhanyut diantara lara dan duka derita, tercabik, terlunta pada tanah tanpa pijakan. cintaku fakir tanpa pemiliknya. layaknya ilalang diantara gersang. sudikah kiranya tuan...
teruntuk kakanda yang jauh dari dekapan...
hatiku hampir mati tertikam, pada rindu kangen yang tak engkau balaskan. berniatkah tuan menghukumku dengan cambuk sembilu? mematikan rasa yang teracuni candumu. teracuni senyummu.
teruntuk kakanda yang rinduku dia mentahkan...
semesta membuatku bertekuk di hadapan, namun engkau diam. kiranya kakanda enggan menjaga cintaku katakanlah. aku tak ingin tetiba lara menyelubung pekat melemahkan.
teruntuk kakanda yang senyumnya ku abadikan, pada ingatan-ingatan, pada memori-memori usang, pada cinta, pada kangen, pada rindu dan pada doa dan waktu, cintaku mencintaimu, bukankah kakanda tahu, mana bisa sebuah cinta berdusta? mana bisa?

Gombong, 18 Agustus 2013 teruntuk kakanda yang (sepertinya) hampir lupa, hingga kabarnya pun tiada :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialog Dini Hari

Wangi

Setiap Ucapan Selamat Tinggal