Tuan

Tuan, maafkan aku yang membisu diantara tanya. Sungguh aku hanya kehabisan kata dan enggan berderai air mata. Tuan, maafkan aku yang hina. Yang mengasihimu lebih dari semestinya. Yang mengkhayalkanmu tanpa berlandas logika. Seperti pungguk merindu rembulan. Seperti tangan yang takkan pernah mampu menggapai gemintang.
Tuan, maafkan aku yang terlalu bodoh memimpikanmu. Menggapai-gapai langit-langit kamarku seolah ada wajahmu yang ingin kurengkuh. Maafkan aku Tuan yang akhirnya tetap pada khayalan. Aku tak mampu mengendalikan rasa yang pada akhirnya meraja. Sebab malam dan pagiku seolah milikmu. Tuan yang akhirnya tetap pada ratapan, ada senyummu yang semakin meremukkan rusuk dan tulang-tulang. Maafkan aku yang mencoba membenci tiap hal tentangmu, Tuan. Aku hanya mencoba berdamai dengan realita. Mengubur mimpi-mimpi dan khayalan yang telah ku sulam. Tuan yang pernah kurindukan, maafkan aku yang sempat menorehkan namamu di satu sudut hati terdalam. Tuan yang sekarang setengah mati ingin ku lupakan, sudikah kiranya tuan menepi perlahan jika memang tak ingin dikenang? aku hanya lelah selalu menunduk di hadapanmu, Tuan.

Komentar

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Dialog Dini Hari

Wangi

Entah Pagi ke Berapa