Pada

pada awal yang akhirnya menjadi titik, aku mencintaimu.
pada temu yang akhirnya menjadi perpisahan, aku mencintaimu.
pada perjumpaan yang akhirnya menjadi kenangan, aku mencintaimu.
pada detik yang akhirnya terhenti, aku mencintaimu.
pada kota yang menjadi anak tangga mimpiku, aku mencintaimu.
pada rindu yang datang menghimpit, merontokkan rusuk-rusuk, pada kangen yang mencengkeram membekas lara, ya... aku mencintaimu.
tapi pada cinta-cinta itu, pada malam-malam di kota itu, pada rindu-rindu itu, aku lupa. adakah cinta-cinta dari rasa yang kau sendiri tak ungkapkan ada tiadanya. aku lupa, ah tidak lupa, mungkin melupa. aku mencintaimu tanpa jawaban. hanya menjalani tanpa harapan.
lalu bodohkah itu? pasti bodoh. sangat bodoh.
kau tahu rasanya merindu tanpa dirindu, layaknya meletakkan hatimu pada pecahan-pecahan gelas. pedih, sedih. kau mengerti rasanya mencinta tanpa dicinta, seolah pecahan itu mencabik lapisan-lapisan kulitmu. mengalirkan darah dan air mata. menghancurkan pikir dan perasaan. memecah tangis dan kesakitan.
lalu kau pernah mengerti sakitnya pengharapan? jangan tanyakan.
kita pernah berada di jalan yang sama, menatap arah yang sama, mengikat hati dengan tali yang sama, menggenggam tangan lalu merapatkan langkah, sama. namun, kita lupa, detik dan hati terkadang mampu saling memengaruhi.
aku mencintaimu, masih pada detik yang tak ada batas limitnya. pada kota yang malamnya pernah menjadi milik kita, aku mencintaimu. pada kenangan yang akhirnya kau lupakan, aku mencintaimu. pada lagu-lagu, angin-angin, bintang-bintang, pada senja, pada janji, pada senyum, pada gelak tawa, pada jutaan hal yang pernah kita jumpai, aku mencintaimu. ya, mencintaimu.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Entah Pagi ke Berapa

Wangi

Setiap Ucapan Selamat Tinggal