Sebab Mencintai Tak Membutuhkan Alasan

Terkadang sebuah tunggu terlalu absurd untuk didefinisikan alasannya. Terkadang pula sebuah rasa terlalu samar untuk dipahami maknanya. Aku tak pernah memintamu untuk berhenti lalu menatapku yang dengan lelahnya menantimu.  Menanti asa pada harap semu. Aku tak pernah menagih jawabmu, meski aku telah payah pada lukaku. Bukan, bukan aku yang seharusnya berteriak, menyerukan pedih dan perih. Bukan, bukan kewajibanku. Aku hanya perlu memandangimu, memandangimu dengan sejuta gejolak lebam sembilu. Aku hanya perlu menatapmu dari sini, dari balik gelap dan abu-abu. Di balik hujan dan petir. Aku hanya perlu melihat langkahmu dari sini. Agar kau tak mampu melihat air mata dan mendengar desah pedihku. Agar hujan menemani penantianku, agar petir menyanyikan risauku.
Aku tak perlu berteriak, menyeruak dari gelap dan membuatku lara. Aku tak ingin dan tak mau. Aku cukup mencintaimu dengan caraku, dengan harap dan penantianku.
Bukan karena aku tak berani, bukan karena aku tak mampu. Hanya karena aku tak memiliki alasan untuk meyakinkanmu. Kau memiliki pilihan. Ya, setiap manusia memiliki pilihannya, dan aku tahu kau punya. Aku hanya mencintaimu dengan caraku. Dengan perih yang tak harus kau tahu, dengan sakit yang tak perlu kau lihat padaku. Aku mencintaimu dengan caraku, dengan hidupku, dengan asa dan penantian. Karena beberapa penantian tak memiliki alasan yang kuat untuk dilakukan. Ya, aku pun begitu, menantimu tanpa alasan, seperti cinta yang tak perlu alasan untuk tetap hidup. Ya...

Komentar

Pos populer dari blog ini

Entah Pagi ke Berapa

Wangi

Setiap Ucapan Selamat Tinggal