Sedikit tentang lalu

 foto : Guntur Triyoga

Aku pernah terjatuh dan tak pernah berharap untuk mampu berdiri.. Lalu aku pernah merasakan perih dan tak berpikir mampu sembuh, tak terluka lagi.
Namun diantara hitam dan sedih yang aku derita, dia datang. Seseorang yang dari awal perjumpaan telah membuatku mengingat wajahnya. Seseorang yang sejak awal perjumpaan telah membuatku merasa tak 'kan mampu menyapanya.
Dia datang lebih dari yang aku butuhkan, seperti kakak, seperti sahabat, seperti kekasih, seperti apa yang tengah aku butuhkan. Aku merasa terbuang, tersingkirkan, namun dia menggandengku, menopangku, menguatkanku.
Aku tak pernah merasa sekuat itu, tak pernah merasa semampu itu. Dia tinggal, tidak pergi ketika yang lain pergi. Mengulurkan tangan ketika yang lain menarik bantuan. Dia Malaikat Mimpi-ku dan dia tahu.
Lalu aku bahagia, sekejap. Dia memberiku "cinta", katanya. Aku pun sedikit merasa. Namun banyak mulut yang membuatku merasa it isn't a good choice. Ya, aku menelantarkan yang katanya "cinta" itu ketika masih dalam kuncupnya. Katanya, dia tidak terluka. Kataku ini bukan apa-apa. Kataku " aku menganggapmu kakak, dan sebaiknya hanya kakak." Entah kebodohan atau keputusan yang tepat. Dia tidak indah, hanya saja memang tidak ada kata yang bisa mendefinisikannya. Kata orang dia "pemain banyak hati", namun kataku dia punya apa yang orang lain tak punya.
Dia tidak pernah sekalipun menumbuhkan bencinya padaku, ketika labilku menjadi Jenderal untuk otakku. Dia mencariku ketika pesannya tak aku balas. Ketenangan adalah yang aku butuhkan waktu itu, namun dia tak mau membiarkanku sendiri dan tenang. Perlahan aku membenci dia. Tidak. Bukan benci, hanya memang butuh sendiri. Lalu waktu yang berbentuk bulan, menyadarkanku. Aku melukai dia, tanpa tahu alasannya.
Dia tidak membenciku. Tidak. Dia datang lalu menegur labilku, aku sadar.

Ternyata penyesalan memang selalu datang ketika semua sudah terlambat.Tentang sesal yang menyadarkanku.
Ada rindu kini, sementara dia telah jauh dari genggaman. Mungkin dulu mampu ku tuntaskan rindu semauku, namun dia kini memiliki hidupnya.
Ada rindu padahal dia tak merindu. Dulu dengan mudah aku memanggilnya mendekat padaku, sementara kini aku tak 'kan mampu.
Ada kehilangan yang menyakitkan. Ada ikhlas yang harus dibenturkan. Ada pengharapan yang mati pada kenyataan. Aku harus tersadar. Malaikat Mimpi-ku tidak tercipta untuk ku genggam ketika aku butuh saja. Malaikat Mimpi-ku memiliki mimpi selain aku. Malaikat Mimpi-ku memiliki hidup, dan bukan untukku. Malaikat Mimpi-ku bukan milikku. Bukan milikku. Bukan milikku.... ***


***Postingan tanpa kerangka, hanya unek-unek semata


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialog Dini Hari

Setiap Ucapan Selamat Tinggal

Duh, Tuan.