22:54

senja tadi di ujung jalan kampung halaman. jingga tadi, di persimpangan Jogja dan kenangan. aku berlalu perlahan, menatap sore yang kemilauan. entah apa yang aku cintai dari Jogja, kota bertabur cerita... aku tak pernah berharap untuk menetap di sana lama, aku hanya cinta suasana damainya... nostalgianya... aku suka berjalan lama di sudut-sudut malioboro, menikmati malam duduk di kaki lima, bercengkerama hangat, membuka mata dengan suasana berbeda dari sebelumnya, bahagia. Ya, aku bahagia dengan Jogja yang sederhana, dengan senyum hangatnya, dengan romantisme yang tercipta dari jejeran lampu remang-remang. Aku suka Jogja, ketika malam, ketika santai dan lengang, ketika hari bahkan begitu panjang, aku suka Jogja... tetapi jingga di sudut senja menyadarkanku, ada kehilangan mendasar padaku atas kota itu, kau tahu apa? cinta... aku kehilangan kecintaanku padanya... aku telah larut dalam bising dan riwehnya pra-metropolitan... Jogjaku berubah perlahan, jumawa sedikit merusak kesederhanaannya.. di sana, di kota yang menyimpan sejuta kenangan. Aku pernah jatuh cinta dan patah arang, aku pernah bahagia dan terluka, aku pernah terbang dan terkubur, aku pernah menikmati hujan lalu membencinya, aku pernah tertawa lalu menangis disudut malam, aku pernah mengukir cerita lalu bernostalgia. Aku pernah mencintai lalu kehilangan... di Jogja. Pertemuan dan perpisahan, batas dan ujung, awal dan akhir... Jogja.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Entah Pagi ke Berapa

Wangi

Setiap Ucapan Selamat Tinggal