Senin, 22 Juli 2013

Hallo Aku Jatuh Cinta

Hallo selamat sore...
Sore yang teduh di kampungku. Jingga tidak bisa menembus barikade awan dan persengkongkolannya dengan mendung... Dingin memang telah biasa pada pagi dan sore di tempat ini, hingga tidur adalah kegiatan paling menarik ketika liburan singgah di kalender akademikku. Oke, sore ini aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu...
Apa kau pernah merasakan jatuh cinta atau paling tidak mengira itu jatuh cinta? Jantungmu berdetak tak terkendali ketika otak mengirimkan sinyal-sinyal yang kontras luar biasa dengan atmosfer sekeliling kita?
Ketika tidak berani menatap matanya atau salah tingkah ketika duduk berdekatan dengannya? Atau mungkin kau berharap dia membalas pesanmu lebih panjang dan setiap hari mengirimkan perhatian? Atau ingin menyentuhnya namun ada getar-getar kecil di balik lapisan kulitmu? Bahkan ketika berjabat kau tak ingin melepas, atau ketika berjabat kau tak henti berdegup dan hilang akal, bimbang, lalu merasa seolah seluruh kupu-kupu yang tadinya bergerak dalam perutmu membuncah di seluruh tubuhmu...
Pernah? atau tengah?
Aku sedang merasakannya... Ada rindu ketika beberapa lama tak berjumpa. Lalu setelah berjumpa tidak bisa tidak salah tingkah di depannya. Atau tidak bisa tidak lama ketika ingin berbincang. Atau mungkin mencuri-curi  pandang di sela dia tertawa, tersenyum, berbicara, diam dan segala hal yang dia perbuat. Bahagia luar biasa ketika dia mulai mengeluarkan ide-ide gilanya, leluconnya, pembicaraannya yang tidak hanya tentang impian... dia itu guru, guru dari realitasku. Dia itu pemantik untuk semangatku.
Pernahkan kau merasakan itu? Dia hanya seseorang dari kepingan masa lalu yang benar-benar tak ingin aku buang. Dia adalah saksi dari aku yang tidak seimbang.
Dulu, iya... dulu. Aku pernah ada di hatinya, mungkin... dan aku malah mempermainkan apa yang ia punya. Bukan niatku, hanya ketidakstabilanku yang membuat keadaan seolah tidak begitu indah.
Sekarang kau tahu? Dia luar biasa, tidak indah, namun memesona. Cara pandangnya, perlakuannya, bahkan kebaikannya. Tapi ada batasan diantara kami, batasan yang membuatku merasa bahwa aku tak akan pernah memilikinya (lagi). Dia itu terlaluuuuu indah, dan aku tak yakin mampu menjaga hati dari pemiliknya itu. Aku tak yakin bisa dipercaya untuk merawat hati itu. Dia pasti akan memperoleh penjaga hati dari golongannya, dari wanita yang juga satu pandangan, satu perlakuan, dan satu ahlaq dengan dia. Dan aku kira, itu bukan aku. Orang yang pernah seenak hati memperlakukannya. Dia bukan pendendam, namun dia mungkin tidak akan lupa perlakuanku.
And so what? Bukankah jatuh cinta itu tidak dilarang? Aku mencintai---atau mungkin mengagumi--- dia, sebagaimana perlakuannya terhadapku. Aaaaakkkk.... aku jatuh cintaaaa !!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar