Berhak Lupa

aku adalah serpihan-serpihan malam, aku adalah kepingan-kepingan kisah yang mungkin perlahan namun pasti kau lupakan. aku hanya sisa dari harap-harap impian. aku hanya bias dari cahaya yang memantul pada cermin-cermin retak. tak terkendali tak terdefinisi. aku hanya daun-daun kering terhempas angin namun tak mampu membencinya. aku hanya lirik-lirik lagu yang lupa kau tulis, notasi-notasi tinggi yang kau benci, nada-nada sumbang dari dawai gitar yang kau petik. aku hanya malam tanpa rembulan maupun gemintang, aku hanya pantai yang tak berombak, aku gunung yang tak berbatu. aku adalah masa lalumu, namun kau masih menjadi masa kini ku. aku ini siapa? aku pun tak tahu. pada detik dan menit aku hanya merangkai rindu, tak berbatas tak berbalas. Pada jam dan hari-hari ku ukir namamu pada doa-doa, tak berbatas tak berbalas. Pada janji-janji dan kisah-kisah, ku selipkan wajahmu, tak berbatas tak berbalas. Aku hanya langkah-langkah bodoh pada masamu, hanya pasir dari pantai gersangmu, labuhan tua dari perahumu. aku bukan siapa-siapa. Hanya retakan dan patahan pada duniamu. aku ini siapa? aku bahkan lupa pada namaku, aku hanya ingat namamu. namamu.  apa itu salahku? atau itu salahmu? bahkan pada hakim-hakim dan jaksa-jaksa aku tak segan berteriak. tak akan. tak ada yang salah pada kisah bodoh nan tua kita. kisah tolol dan naif kita. ini tentang rasa, kau berhak pergi dari pantai tak berombak, kau berhak lupa pada malam tak berbulan dan gemintang, kau berhak membenci dedaunan kering tak berdaya, kau boleh mencaci gunung-gunung tak berbatu. kau berhak membenci dan melupakanku. berhak melupakanku. melupakan aku.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Entah Pagi ke Berapa

Wangi

Setiap Ucapan Selamat Tinggal