Kamis, 25 Juli 2013

Opini tentang Pendidikan Indonesia ( tugas LPM )




Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak Guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa... tanpa tanda jasa.
 Sering mendengar lagu tersebut? Atau bahkan kita hanya mendengarnya ketika upacara kelulusan Sekolah Dasar dulu ? Coba ingat kapan terakhir kali lagu itu kita dengarkan.
Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu cita-cita bangsa Indonesia. Hal tersebut yang menandakan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang menjadikan pendidikan sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupannya. Namun, dapat kita lihat sendiri bagaimana sekarang keadaan pendidikan kita. Mulai dari faktor pendidik dan sarana-prasarana pendidikannya.
Sebuah hal yang dilematis ketika potret pendidikan saat ini dihadapkan dengan kalimat “masa depan bangsa kita ada pada generasi penerusnya”. Bisa dibayangkan bagaimana tangan kecil anak-anak Indonesia yang dididik dengan sarana dan prasarana yang sangat minimum dan pendidikan yang tidak memadai akan memegang tampuk kekuasaan di masa yang akan datang? Ironis. Bayangkan saja, pendidikan yang pada dasarnya adalah hak semua warga negara dan pemerintah wajib mendistribusikan dengan adil atau paling tidak menyamaratakan hal tersebut, hanya terfokus di daerah-daerah yang dekat dengan pusat pemerintahan. Entah itu di daerah-daerah atau di kota sekalipun. Bisa kita amati, banyak terjadi ketimpangan pendidikan di Indonesia. Daerah yang jauh dari pusat pemerintahan, bangunan sekolah, sarana prasarana dan tenaga pendidiknya jauh dari kesan layak. Sedangkan sekolah yang berada dekat dengan pusat pemerintahan cenderung menjadi sekolah favorit dan semua kebutuhannya terpenuhi.
Di salah satu desa di Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, sarana prasarana sangat tidak memadai di jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak, misalnya di TK Pertiwi 11. Bangunan yang juga menjadi gedung Dharma Wanita Desa Kalitengah ini telah berdiri sejak tahun 1980. TK yang didirikan oleh pemerintah Desa Kalitengah ini tidak banyak mengalami perubahan, bahkan lebih buruk dibandingkan TK yang dikelola oleh Yayasan yang juga berdiri tidak jauh dari TK milik desa. Hal tersebut dikarenakan pembiayaan TK yang ditanggung sendiri oleh pemerintahan Desa dan dibantu oleh Pemerintah Daerah. Sedangkan kemampuan desa sangatlah minim jika harus membiayai perawatan dan pembangunan yang memadai untuk TK tersebut. Memang Taman Kanak-Kanak bukan merupakan salah satu pendidikan formal yang wajib dilalui oleh setiap anak. Tetapi di sinilah penanaman moral dan salah satu pendidikan pertama anak di luar keluarganya, selain Pendidikan Anak Usia Dini sekarang ini. Taman Kanak-Kanak memang telah luput dari perhatian kita, padahal sebenarnya keberadaan Taman Kanak-Kanak juga berpengaruh pada kepribadian generasi-generasi penerus kita.
 Tidak hanya kecacatan itu saja, di desa ini, bahkan beberapa tempat lainnya di Indonesia, masih saja terjadi praktek Nepotisme. Dalam kenyataannya, akan sangat mudah bagi seseorang menjadi guru ketika orang tersebut memiliki kenalan atau kerabat dalam bidang yang sama. Sedangkan di luar sana, masih banyak guru-guru yang dengan susah payah harus menempuh masa baktinya selama bertahun-tahun dan belum tentu diangkat sebagai PNS. Ibu Titi, salah satu guru di TK Pertiwi 11 telah mengabdi selama dua belas tahun, namun hingga saat ini beliau masih menjadi tenaga honorer di TK yang hanya memiliki dua orang tenaga pendidik ini. Beliau hanya mendapat sebagian sawah bengkok (sawah desa) dari Desa Kalitengah. Lalu tunjangan kurang lebih Rp 400.000 dan sebagian uang yang jika dinominalkan kurang dari Rp 50.000 dari iuran muridnya setiap bulannya.
Pendidikan yang menjadi aset penting negara dan merupakan jalan bagi para generasi muda memajukan kehidupan mereka keadaannya sangat memprihatinkan. Di beberapa bagian Indonesia, negeri yang katanya kaya raya ini, anak-anaknya harus meniti jembatan dari tali, menyeberang sungai besar, menempuh puluhan kilometer untuk memperoleh pendidikan. Di beberapa bagian Indonesia yang disebut-sebut sebagai tanah surga ini, pendidikan bahkan belum mampu menjamah ke pelosok-pelosok negeri. Di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, banyak sekolah pelosok yang atapnya terbuat dari daun-daun, atau atap genteng namun air masih mampu masuk ketika hujan turun.
Pendidikan adalah aspek vital dalam kehidupan bernegara, namun hingga saat ini Indonesia masih belum mampu memberikan dan mendistribusikan pendidikan keseluruh daerahnya. Masih banyak anak-anak di luar sana yang masih buta huruf. Bahkan bukan hanya anak-anak, para remaja pun masih ada yang tidak bisa membaca dan menulis. Pemerintah harus menjalankan tugas dan kewajibannya dalam pemenuhan hak pendidikan ini. Meskipun jika pada akhirnya masyarakat menolak bersekolah, pasti ada alasan dibalik itu semua. Entah karena biaya yang memang mahal untuk mengenyam pendidikan atau masalah lain, namun bukankah pendidikan tidak hanya didapat dari bangku sekolah? Di sinilah peran pemerintah sebenarnya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar