Setiap Ucapan Selamat Tinggal

Yogyakarta, 17 November 2014.
Selamat tergelincirnya dhuhur menuju asyar. Sebelumnya selamat ulangtahun teruntuk Mudzakir yang ke-22 dan Ismail Sani A.M yang ke-21. Entah kalian akan membaca ini atau tidak, saya hanya ingin mengucapkan selamat dan berdoa segala yang terbaik untuk kalian.
                            ****
Ini tahun keduanya berada di sebuah keluarga kedua di Yogyakarta. Mengapa keluarga kedua? Mereka tidak terlahir dari rahim yang sama ataupun induk sperma yang sama. Mereka berasal dari perbedaan yang dibenturkan. Mungkin pula, pada awal pendaftaran, mereka tidak memiliki tujuan yang sama. Mereka terdiri dari masing-masing kepala berotak yang mungkin pula sampai detik dia menuliskan ini, isi otak mereka pun masih berbeda. Mengapa keluarga kedua? Sampai saat ini dia tidak tahu. Mungkin bukan tidak tahu, lebih tepatnya tidak ada definisi akan hal itu. Mungkin pula dia telah jatuh cinta dengan organisasi ini. Dengan manusia-manusia di dalamnya. Dengan pikiran-pikiran mereka, dengan tujuan mereka. Dia masih ingat benar, para Pengkaderan yang memiliki tanggung jawab membimbing dan menciptakan kader yang baik untuk organisasi, menanamkan solidaritas yang tidak abal-abal. Mereka 'dipaksa' untuk menganggap satu sama lain sebagai keluarga. Setiap permulaan memang selalu sulit. Namun ketika sampai di titik ini, dia baru merasakan, mengapa dia rela untuk pulang ke tanah Yogyakarta lebih awal dari mahasiswa lainnya ketika libur perkuliahan. Karena dia tidak pernah merantau. Dia hanya berkunjung ke rumah dan keluarga keduanya. Iya, Keadilan.
Banyak hal yang diterimanya dari Keadilan. Lembaga Pers Mahasiswa yang kemudian menenggelamkannya pada kecintaan terhadap organisasi itu. Dia mabuk namun berharap terjaga agar tak limbung. Kecintaannya terhadap organisani ini seharusnya bernalar, tidak buta ataupun gila. Sebab tidak dapat dipungkiri, dia pun memiliki kewajiban lain untuk keluarganya yang lain. Namun terlepas dari itu semua, dia tetap jatuh cinta.
Seperti kebanyakan orang yang tengah jatuh cinta, hatinya akan patah bahkan remuk jika yang terkasih memilih pergi. Selama dua tahun, begitu banyak air mata dan degupan jantung yang kencangnya tak terkendali. Ada banyak ucapan perpisahan. Perlahan hatinya remuk, satu persatu dari mereka mengucapkan selamat tinggal. Entah dengan cara yang benar ataupun pengunduran diri.
****
Dari masa kaderisasi 2012, ada 44 orang yang mengikuti In House Training organisasi kami. Mereka adalah calon-calon 'bayi' yang siap diajari cara makan-minum-mandi-cebok oleh bidang Pengkaderan. Namun satu persatu dari mereka tumbang sebelum berperang. Ada yang mundur, ada pula yang tertatih. Mungkin dia adalah salah satu 'bayi' yang tertatih itu. Namun baginya, menulis adalah caranya untuk tetap bertahan hidup. Dia tidak mau mati dalam keadaan bodoh dan tak menghasilkan apa-apa. Dia berpikir bahwa dengan bertahan di organisasi pers itu dia akan tetap menulis. Namun, dia salah. Di organisasi yang dimasukinya sekarang, dia tidak hanya diajarkan untuk menulis. Namun lebih dari yang dia inginkan. Ultra Petita tidak berlaku untuk Keadilan. Dia diajari banyak hal. Matanya dibuka selebar cakrawala, otaknya diperas untuk kemaslahatan banyak orang. Dia yang berpikiran egois dipaksa untuk berpikir bahwa dia hidup tidak untuk dirinya sendiri. Dia mulai kelelahan, si 'bayi' yang tertatih mulai merangkak. Entah apa yang ada dalam otaknya, dia berkeluh kesah pada dunia, namun hatinya tetap ingin bertahan. Si 'bayi' yang masih buta arah ini bertahan, tanpa ada yang ingin dipertahankan. Dia merasa tidak mendapati tujuannya di tempat ini. Ya, karena dia salah. Keadilan bukanlah tujuan. Dia salah. Keadilan adalah sebuah tubuh yang memiliki tujuan pula. Tujuan Keadilan bukanlah menulis. Itu hanya caranya.
Beberapa bulan di Keadilan, dia merasa dirinya hampir mati. Ritme organisasi yang keras dan cepat membuatnya harus sering-sering menarik napas lelah. Namun dia tetap tak ingin berhenti. Dia tidak mendapati tujuannya, namun dia tidak mau berhenti di tengah jalan. Dia mau melihat lebih dalam mengenai organisasi yang dia geluti. Perlahan tapi pasti, dia merasa. Bahwa dia terlalu takut jauh dari Keadilan. Ya, dia mulai jatuh cinta. Dia mulai menikmati ritme yang menguras otak dan waktunya. Mulai menikmati satu persatu perbedaan yang muncul di sisinya. Cara pandangnya terhadap dunia mulai berbeda. Dia mulai mampu berjalan namun sesekali terjatuh dan menangis. Dia mengerti, di Keadilan tempat mengabdi dan belajar. Bukan tempat kursus menulis ataupun kelas sastra. Di sana dia mendapatkan lebih dari menulis, sastra, seni dan lainnya.
                             ****
Baginya, orang-orang yang dijumpai di Keadilan adalah kakak laki-laki dan saudara perempuannya. Terkadang dia menganggap bahwa dia tidak lagi membutuhkan pasangan, sebab di Keadilan semua dapat menjadi pasangannya. Bahkan lebih baik dan lebih perhatian--mungkin dia terlalu lama sendirian atau kesepian dan kurang perhatian.
                              ****
Tetiba sakit menjalar perlahan di hatinya, ketika mengetahui salah satu dari keluarga ini akan pergi. Dia, Alam Surya Anggara. Seseorang yang telah menjadi kakak, guru, idola, sekaligus inspiratornya. Orang dengan otak dan pemikiran yang luar biasa baginya. Mas Alam, biasa gadis itu memanggilnya. Bagi si gadis, itu perpisahan pertama yang begitu menyakitkan. Dia baru saja menyadari keberadaan keluarga barunya, namun akan segera ditinggalkan oleh salah satu anggota. Masih lekat di ingatannya, beberapa kali dalam rapat organisasi dia memilih duduk di samping Mas Alam hanya sekadar untuk menanyakan beberapa hal. Dia merasa aman bersama Mas Alam, aman dalam hal pemikiran. Dia pun masih ingat benar, betapa beruntungnya dia dapat melakukan reportase pertamanya untuk pembuatan majalah bersama Mas Alam. Itu adalah reportase terakhir Mas Alam di Keadilan. Memang benar, perpisahan merupakan awal dari sebuah pertemuan dan sebaliknya, pertemuan memang awal dari perpisahan. Mas Alam mengucapkan selamat tinggal ketika gadis ini baru saja datang menjadi anggota keluarga. Di titik itu dia merasa ada sesuatu yang lebih dari sebelumnya. Seperti lagu Letto, rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya. Gadis itu merasa kehilangan untuk pertama kalinya, dan perasaan sakit itu luar biasa dalam. Gadis ini belum mengerti apa-apa. Hanya saja dia kehilangan sebagian dari hatinya.
                              ****
Waktu terus berjalan, keluhan masih setia menemani langkah gadis yang baru saja menapaki tanggung jawabnya di keluarga kedua itu. Tanggung jawabnya terus bertambah di bawah Pimpinan Redaksi, yaitu Aditya Pratama Putra atau Mas Pepe, dan Koordinator Editor Bahasa Indra W.A Bagan atau Mas Bagan. Perlahan ada yang dirasa aneh olehnya, Mas Bagan sering menghilang dan tanpa kabar. Mereka berkomunikasi lewat sms atau media chatting. Tak berapa lama, pertanyaanpun terjawab. Sehari sebelum rapat evaluasi Keadilan. Mas Pepe mengumumkan sesuatu yang datangnya seperti petir di siang hari. Mengagetkan dan menyakitkan untuk didengar. Mas Bagan telah menyelesaikan studinya di FH, itu berarti Mas Bagan telah mendahului yang lain dan mengakhiri masa pengabdiannya. Hati si gadis mencelos. Sayatan yang belum sepenuhnya kering tiba-tiba kembali koyak. Ditatapnya Mas Bagan di seberangnya, Mas Bagan menatapnya dengan raut pasrah. Air mata jatuh rapi dari pelupuknya, namun segera dia seka. Ada batu yang tiba-tiba menghantam dadanya, sakitnya begitu nyata. Si gadis merasa kehadirannya tidak dianggap, sementara Mas Bagan sudah dianggapnya seperti kakak lelakinya sendiri. Dia hanya membutuhkan keterbukaan, namun Mas Bagan menutupinya dengan alasannya sendiri. Si gadis kecewa. Selama malam itu, ditahannya tangis agar tak meluncur bebas tak terkendali. Mas Bagan, salah seorang diantara mereka pun kembali mengucapkan selamat tinggal. Dua orang yang tiba-tiba pergi ketika si gadis baru datang.
Perlahan namun pasti, si gadis menyadari posisinya di keluarga Keadilan itu. Dia adalah salah satu anggota keluarga, terlebih lagi dengan tanggung jawab yang kemudian kini diembannya. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang Mas Bagan tinggalkan untuk dijaganya. Sesuatu yang lebih bernilai dari keegoisannya sendiri.
                             ****
Senin, 10 November 2014. Ada yang sama-sama menyakitkan dari perpisahan sebelumnya. Dia, Caca. Mengajukan surat pengunduran diri kepada Pemimpin Umum Keadilan, Jefrei Kurniadi atau Mas RT. Si gadis telah mendengarnya dua hari sebelum rapat pleno itu dilakukan. Kala itu, si gadis tengah berada di kelas Hukum Perusahaan. Mendengar kabar itu, air matanya tiba-tiba menetes tanpa dia sadari. Sebuah panah yang tepat di uli hati menancap. Sakit luar biasa. Seolah-olah ada salah satu dari anggota keluarganya di posisi kritis tanpa mampu dia bantu. Caca, teman yang dari awal pendaftaran sudah dikenalnya, dan kemudian bertahan hingga sejauh ini di organisasi yang sama, tanpa pemberitahuan sebelumnya mengajukan pengunduran diri. Satu persatu dari keluarga Keadilan-nya mengucapkan selamat tinggal. Sakitnya bertahap-tahap. Mungkin itu yang membuatnya kini lebih menghargai waktu bersama Keadilan. Bersama manusia-manusia yang diyakininya akan mengucapkan selamat tinggal satu persatu. Bersama Mas Pepe, Mas RT, Mas Beni, Mas Djakir, dan semuanya, yang akan menghasilkan banyak air mata ketika pengabdian mereka di Keadilan usai. Dia merasa bahwa dirinya memiliki tanggung jawab untuk tetap mengabdi pula sama seperti pendahulunya. Seperti yang dikaguminya.
*Hujan dan mendung menemani ketika tulisan ini dibuat.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Dialog Dini Hari

Wangi

Entah Pagi ke Berapa