Pesan dari Anak Zaman

Selamat malam. Senin malam di Keadilan dengan diiringi gemericik hujan membuatku mengingat sebuah pesan yang seharusnya aku berikan kepada orang tuaku. Entah seharusnya kuberikan jauh hari sebelum ini atau nanti, ketika mereka menuntut salah satu kewajibanku. Memiliki dua keluarga memang tidaklah mudah. Namun bukan berarti karena ketidakmudahan itu, aku harus menjadi pendurhaka.
Pesan yang kutuliskan di facebook ini muncul ketika aku merasa menjadi bagian dari Keadilan. Entah. Namun aku bukan tipe pembangkang dan bukan pula penurut. Aku bergerak dengan otakku sendiri dan rasionalisasinya. Begini tulisanku ketika itu:

Mamaku yang terhormat... selamat sore...
Semoga senja yang indah tengah berpose di depan mata hitammu itu...
Aku adalah anak yang hampir dua puluh tahun ini kau didik...
Dengan tangan yang tak hanya mengajariku kelembutan, namun juga kerasnya kehidupan...
Mama yang senyumnya menjadi selimut dari malam-malam dinginku...
Untuk hari yang entah keberapa ribu dalam hidupku...
Aku bertemu dengan orang-orang hebat dan luas pikirnya...
Aku menyerap setiap ilmu, jengkal demi jengkal mulai subur di gurun pasir otakku...
Mamaku yang luar biasa kuatnya...
Anak kecil yang dulu kau usap tangisnya kini telah tumbuh menjadi seorang dewasa, menurutku...
Hidup telah memberikanku beberapa pilihan yang tak hanya sulit namun juga membunuh...
Aku hidup diantara orang-orang dengan jiwa dan pikiran besar, maka aku pun bertumbuh dengan sikap itu pula...

Papaku yang terhormat pula, tabikku untukmu...
Semoga di rumah, kau juga mendapatkan keindahan yang luar biasa...
Aku adalah anak yang hampir selama dua puluh tahun ini kau besarkan...
Dengan keringat dan ketabahanmu, aku tumbuh sehat dan menjadi bagian dari dunia...
Papa yang air matanya yang berarti sebuah kebodohanku, aku hidup di zaman yang juga luar biasa...
Hidup telah memberiku persimpangan-persimpangan yang untuk memilih pun aku harus mengorbankan sesuatunya.
Setiap hal adalah peluang, dan selalu ada pengorbanan dalam setiap peluang...
Papaku yang lapang hatinya...
Anak kecil yang dulu kau timang dan kau bantu berjalan...
Kini telah berjalan pada jalannya, pada pikirannya...
Biar aku jatuh lalu berdiri dengan kedua kakiku sendiri... Kau hanya perlu melihat anakmu memperjuangkan hidupnya sendiri...

Papa dan Mamaku yang luar biasa mulia...
Aku adalah anak dari zaman... Aku berkembang di sebuah zaman yang berbeda dengan zaman kalian...
Mungkin dan pasti aku berbeda pula dengan kalian...
Hanya saja hormatku bahkan lebih tinggi dari perbedaan itu...
Pada usia yang hampir dua puluh tahun ini, aku hanya tengah berdilema dengan pikiranku sendiri...
Jika nanti pilihan itu berbeda dengan jalan yang kalian pilihkan untukku, dengan sembah aku memohon...
Jangan anggap aku mendurhakaimu...
Aku hanya tengah memilih jalan yang berbeda saja...
Mengisi hidup-hidupku dengan berguna, dengan cara yang tidak ada pada zamanmu...
Mama dan Papaku yang terkasih...
Aku adalah anak dari ilmu... Bimbing aku dengan mutiara-mutiara doa yang teruntai indah pada langit-langit malam kalian...
Sebab aku yakin Tuhan memberikan jalan dengan keridhoan-keridhoan kalian...
Mama dan Papaku...
Aku bukan hanya anak-anak dari kalian, sebab pula aku adalah anak-anak dari kebenaran....
Hidup di dunia tidak pernah sepanjang dongengan... aku hanya ingin berharga... bukan hanya untuk kalian berdua yang tercinta... namun juga untuk lainnya...
Mama dan Papaku yang tercinta...
Semoga aku tetap berada di jalan yang benar dan bersama orang-orang yang benar...
Semoga pula limpahan kebaikan tertuju untuk kalian dan keluarga terkasih di rumah...
Jika nanti pada saatnya aku pulang, aku akan pulang....




Yogyakarta, 26 Januari 2014

Komentar

Pos populer dari blog ini

Entah Pagi ke Berapa

Wangi

Dialog Dini Hari