Gelas-Gelas Kaca #1

Namanya Lucia. Tokoh dalam cerita yang kubuat. Dia akan kuberi kecantikan melebihi wanita lain di sekitarnya. Tingginya sekitar 172cm, dengan tubuh sintal. Matanya indah. Korneanya berwarna coklat dengan sinar kecerdasan yang begitu terpancar. Jari-jarinya lentik dengan kuku cantik terawat. Rambutnya panjang, hitam, lebat, halus, dan lurus. Begitu kontras dengan kulitnya yang putih, mulus. Tanpa luka atau goresan sedikit pun. Bibirnya penuh dan berwarna merah muda alami. Pantas, setiap lelaki akan memujanya. Memuja kecantikan yang tokohku ini miliki. Mereka akan berlomba-lomba mendapatkan hati Lucia-ku. Namun Lucia bukan wanita kebanyakan, kataku. Otaknya memiliki kemampuan lebih. Aku tak suka wanita cantik yang tak berotak. Maka ku buat Lucia-ku ini menjadi wanita cantik yang berotak pula.
Lucia memiliki kecerdasan yang membanggakan. Dia adalah pebisnis andal. Dia menjalankan roda perusahaan warisan ayahnya. Sebuah bisnis di bidang property. Bisnis yang begitu menjanjikan. Sebagai pelengkap bahwa dia memang wanita berbibit unggul, aku membuatnya menjadi sarjana terbaik di universitasnya. Kataku, aku tak akan membuat Lucia-ku biasa saja, bukan?
Malam itu, seperti wanita modern pada umumnya, Lucia menghabiskan waktu bersama sahabat-sahabatnya. Ya, Lucia tak hanya pintar dan cantik, namun pribadi yang menyenangkan. Dengan balutan mini dress hitam dan rambut yang digerainya, Lucia hanya perlu mengedipkan mata jika mau mengundang lelaki untuk mendekati. Sebatang rokok dinyalakan, ia isap dalam-dalam. Dibiarkannya nikotin dan tar masuk ke mulut lalu dikeluarkan dalam bentuk asap. Malam itu, Lucia baru saja menyelesaikan bisnisnya dengan para investor dari Singapura. Mereka mau menanamkan modal dalam pembangunan apartemen baru yang dikelola olehnya. Bagi Lucia, hari-hari seperti itu bukan lagi sebuah hari yang menggembirakan. Lucia sudah terbiasa berbisnis lintas negara.
Diteguknya segelas wine perlahan.
"Lucia, apa kamu tidak bosan dengan kesibukanmu seperti ini?" tanya salah seorang dari mereka sambil mengisap rokok dalam-dalam. Ia Karel, desainer sekaligus pemilik butik kenamaan di Indonesia.
Lucia membuang sisa-sisa abu di ujung rokoknya pada sebuah asbak. Diisapnya lagi, kali ini lebih dalam. Senyumnya merekah.
"Untuk apa bosan? Kalaupun aku bosan, semua tidak akan berubah, kan? Matahari juga akan tetap terbit dari timur, tenggelam di barat?" jawab Lucia-ku.
Mereka semua terkekeh. Termasuk si penanya. Wanita-wanita kosmopolitan cantik itu terbiasa berpesta. Bergelut dengan pekerjaan pada separuh hari mereka, lalu menghabiskan malamnya bersama. Entah hanya sekadar mengobrol di taman, cafe, atau di diskotik. Pulang pagi hari dalam keadaan mabuk. Namun Lucia-ku lagi-lagi berbeda. Ia tahu bahwa alkohol itu memabukkan, maka ia hanya menenggaknya pada batas kesadaran. Ia wanita cerdas dalam semua hal. Ia tak mau terlihat buruk ketika mabuk.
"Ah, kau Lucia. Hidupmu hanya kau habiskan dengan bekerja dan berpesta malam harinya. Apa kau tak kesepian?" tanya seseorang lainnya yang sudah hampir hilang kesadaran. Tubuhnya sudah limbung, disandarkan lemah di sofa empuk itu. Namanya Layana, sosialita simpanan pejabat.
Lucia dan lainnya hanya terkekeh melihat wanita yang terbiasa dengan dandanan super wah itu dalam keadaan mabuk. Make up-nya sudah luntur berantakan. Rambutnya sudah tidak teratur.
"Aku kesepian? Lalu untuk apa aku tetap bersama kalian hampir setiap malam?" jawab Lucia sambil terus mengisap Marlboro-nya. Sudah bungkus kedua malam ini. Lucia-ku sebenarnya perokok berat. Hanya saja, ketika bertemu klien, ia harus menjaga etikanya. Bukankah sudah wajar, seorang wanita pada zaman ini merokok? Jangan protes. Dia tokohku, maka kubuat sesukaku.
Kini wanita berkacamata yang cantik menggenggam tangan Lucia. Senyumnya sumringah. Dia Helga. Sahabat sekaligus saingan Lucia di universitasnya dulu. Mereka selalu berlomba untuk mendapatkan nilai terbaik, tetapi Lucia-ku yang pada akhirnya mendapatkan predikat lulusan terbaik itu.
Helga tak henti-hentinya menggenggam erat tangan Lucia. Lucia pun mendaratkan kecupan lembut di bibir Helga. Sudah beberapa bulan ini kubuat Lucia tak kesepian. Biar saja Lucia, wanita cantikku ini bermesraan dengan wanita lainnya. Aku tak mau ia terluka oleh lelaki. Aku tak mau ia seperti ibunya. Membunuh suaminya sendiri dan berakhir di Rumah Sakit Jiwa.
Aku hanya melindungi hatinya, dan beruntungnya Helga ternyata telah menyimpan lama perasaan itu.
Bukankah, katanya cinta itu tak pernah salah? Jadi tak salah, jika Helga kemudian mencintai Lucia?
Perasaan itu kutumbuhkan ketika terakhir kali Lucia memeluk Helga beberapa bulan lalu. Malam itu, Helga menangis setelah memergoki tunangannya berselingkuh dengan seorang model di hotel. Namun Lucia-ku datang dan membawa Helga ke sebuah pantai. Dipeluknya erat sahabat itu, lalu Helga hanya terdiam. Ia melakukan pengakuan. Telah lama disimpannya dalam-dalam perasaan yang entah apa namanya. Namun karena takut Lucia menghindar, maka ia berusaha menghilangkannya.
Lucia hanya menatap Helga dalam. Helga mengecupnya perlahan. Lalu kujentikan jariku, membubuhkan perasaan yang sama di hati Lucia. Biar saja Lucia merasakan cinta yang tidak akan menyakitinya.
Dan sampai saat ini, cinta itu bertumbuh dan ranum. Ia ditumbuhkan dengan jalan yang di luar dugaan kebanyakan wanita.

Komentar

  1. Aku jadi ingat tokoh Diva di Supernova KPBJ. Cantik, berkilau, pintar, menawan dan agak radikal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, aku belum pernah baca supernova malah. menurutmu penokohannya bagaimana, mas? kau bisa membayangkan Lucia-ku ini seperti apa?

      Hapus

Posting Komentar

Pos populer dari blog ini

Dialog Dini Hari

Wangi

Entah Pagi ke Berapa