Pencari Ketenangan

Apa yang kau cari dari sebuah ketenangan?
Bukankah terkadang ia menyiksa? Membiarkanmu sendirian, tanpa bunyi tanpa kata, tanpa tanya?
Apa yang kau cari dari sebuah ketenangan?
Bukanlah tenang membuatmu tertidur nyaman? Bukanlah ia membunuh perlahan?
Sinar datang tanpa kau tahu tandanya. Semua bergerak tanpa sanggup kau cerna lagunya. Senandung lirih nan indah tak kau dengar. Ia hilang pada akhirnya. Lalu apa yang kau cari dari tenang? Bahkan tenang yang aku punya mampu menyayat lebih dari pekikan.
Apa yang kau cari dari hidup yang tenang, manusia? Bisa saja tenang membawamu pada kematian. Ketika ribuan orang bergegap gempita, merayakan bahagia. Kau tak merasakannya. Telingamu tenang. Hatimu tenang. Tapi jiwamu, entah.
Apa yang kau cari dari ketenangan? Pernahkah kau belajar dari ketulian? Bahkan mereka rindu pada suara, jeritan, dan makian. Mereka rindu pada gendang telinga yang menangkap bunyi-bunyi lain di luar suara otaknya. Pernah belajar pada ketulian?
Layaknya menatap rentetan peristiwa tanpa tahu alur ceritanya. Kau tak mampu mendengar, hanya mampu menikmati visualnya.
Bahkan, apa yang kau cari dari ketenangan? Ketika bunyi-bunyian tak kau tangkap, sedang visual tak mampu kau cerna. Pernah belajar apa kau tentang pencerahan? Bahwa dari matamu saja engkau buta. Apa yang kau cari dari ketenangan? Bukankah terkadang tenang itu menyesatkan? Diselubungi gelap, dikelilingi senyap. Lalu tahu apa kau tentang ketenangan? Kau hanya akan ketakutan, ketika gelap dan senyap mulai membosankan. Apa yang kau cari dari ketenangan, manusia? Jika pada akhirnya yang kau cari itu tak mampu kau nikmati. Kau tak melihat dan tak mendengar. Kau tak mampu berjalan dan tak mampu menimbang. Kau tuli dan buta, manusia. Tenang yang kau harapkan membuatmu tak berguna. Kau lebih tuli dari mereka yang tuli. Kau pun lebih buta dari mereka yang buta. Kau pencari ketenangan? Carilah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dialog Dini Hari

Setiap Ucapan Selamat Tinggal

Duh, Tuan.