kisah tanpa judul #1

Antara peron dan ruang tunggu pengantar pada stasiun terpisahkan pagar besi. mereka saling menatap heran, lelaki berjaket merah itu mendekat. Ada yang beda pada mata Lily. Sembab. Dia tak sadar apa yang dilakukannya ketika tiba-tiba dia telah berdiri di hadapan wanita pucat pasi itu. Lily memakai gaun putih selutut, dengan rambut tergerai. Indah sebenarnya, hanya kepucatan di wajah sendu itu yang membuatnya seolah-olah lebih tua. Dari balik pagar peron, Gia memberikan selembar tisu. Lily terkejut pada lelaki yang tak pernah dia kenal sebelumnya. Di tatapnya lelaki itu. Matanya yang teduh dan bibir kecil dengan raut datar. Seolah dikomando, tangan kurus itu menerima tisu yang diberikan Gia. Lily tertunduk tanpa tahu maksud Gia. "stasiun itu tempat pertemuan dan perpisahan, mbak. dan saya yakin perpisahan selalu membuat luka. di sini lah tempat luka, haru, perjumpaan, perpisahan, air mata dan kebahagiaan bercampur..." ucap Gia seraya mengambil posisi duduk membelakangi Lily. Lily mengusap air matanya dengan tisu itu. Lalu dia kembali terdiam memikirkan beberapa menit lalu kereta terakhir ke Surabaya telah membawa hatinya. Sesegukan masih sesekali terdengar dari mulut Lily, dan Gia pun masih duduk diam menatap ke depan. Ya, lelaki itu di sana, namun hatinya berada di garis Pantai Utara Jawa bersama kenangan.

Komentar

Pos populer dari blog ini

Dialog Dini Hari

Wangi

Entah Pagi ke Berapa