Senin, 09 November 2015

Wangi

Beberapa bunga menganggap dirinya terus mewangi sendiri. Dan beberapa bunga lainnya mencoba tetap mempertahankan wanginya. Bunga-bunga itu bisa saja memilih untuk gugur, namun enggan. Di benaknya, gugur tanpa meninggalkan wangi adalah kesalahan. Setidaknya ada bagian dari anak-cucunya yang nanti memberi wangi di tanahnya.
Bertahan dari situasi yang tidak menghidupi adalah kekuatan. Tetapi yang terjadi adalah disalahkan keadaan.
Cabut saja setiap bunga yang tak mewangi, jika memang taman ini hanya untuk bunga yang wangi. Sebab bunga tak wangi hanya menjadi beban tersendiri. Lalu cabut saja bunga yang mencoba mempertahankan wanginya, sebab sama saja ia tak lagi wangi sempurna.
Sudahi saja semua perang wangi dan tak wangi. Jelaskan garisnya. Biar yang melewati garis dibunuh saja. Sudah tidak dibutuhkan lagi bunga-bunga tak berotak. Yang taman ini butuhkan bunga mewangi yang mampu mempertahankan dirinya sendiri.
Kalau tidak, benahi saja semua wanginya. Apa benar wangi yang dimau adalah wangi yang dihasilkan. Wangi ini membuat buta dan tuli. Membuat amarah dan emosi. Lalu apa gunanya wangi, jika hasil dari wangi adalah prasangka dan kepura-puraan yang sembunyi.
Entah. Entah. Entah. Bunga itu yang salah mengerti atau memang pemaknaan itu terlalu semu. Jelaskan saja garisnya, kataku. Wangi apa yang dimau. Biar tak lagi ada bunga yang tak mewangi. Biar tak lagi ada bunga yang menggugurkan diri. Biar tak ada lagi bunga yang mempertahankan wanginya tanpa arti. Sebab bertahan di situasi yang tak menghidupi adalah kekuatan. Tetapi jika kekuatan diragukan, maka apalah arti wangi. Baginya.

Sabtu, 07 November 2015

Hujan November Datang

Hujan November datang, kawanku. Ia membangunkan dari kering yang mulai mengaduk-aduk emosi.
Hujan November pulang, kawanku. Ia mengetuk daun-daun yang layu di dahannya sendiri. Menetes pada hati-hati manusia yang mulai berprasangka. Membenci keadaan yang mulai tak bersahabat. Meneriaki kenangan yang memunggungi.
Hujan November senang, kawanku. Ia menari di atas gemericiknya sendiri. Bersenandung bersama melodi-melodi minor dari dawai penyendiri. Meniup-niup halimun menerbangkan gerimis. Menimang para pemimpi di siangnya yang dingin.
Hujan November menang, kawanku. Amarah larut pada syukur. Benci beradu rindu. Mendung benar, ia hujan sekarang.
Kini sedih tahu tempatnya tumpah, kawanku. Hujan November memberinya pelukan. Risau tak lagi berjalan tanpa genggaman. Gerimis telah menyentuh tepat pada sebabnya.
Hujan November mulai datang, sayangku. Tak ada lagi lelah yang tak dapat kau tangisi. Sebab kawan hujan, selain tawa gembira bocah-bocah bertelanjang kaki, juga airmata para penggelisah.
Hujan November datang, kawanku. Ia datang. Buka jendelamu, lalu rasakan. Ia memberi pelukan, kejutan.