Minggu, 22 Desember 2013

Selamat Hari Ibu, Mah...

Apa yang bisa aku sebutkan? apa yang bisa aku sanjung? apa yang bisa aku banggakan? jika semua sebutan, jika semua sanjungan, dan jika semua kebanggaan dariku adalah dirimu sendiri, mah?
sudah amat sangat jelas di dunia ini, tidak satupun makhluk Tuhan memiliki kesempurnaan, tetapi mana bisa seorang anak tidak menyempurnakan ibundanya sendiri, mah? aku tidak mengkuduskanmu, mah, aku mencintaimu layaknya manusia. Air mata, kemarahan, dan segala gerakmu adalah satu diantara komponen hidupku, mah. Maka terus bertindaklah seperti seharusnya seorang ibunda, seperti dulu hingga saat ini. Bertindaklah seperti aku adalah anak kecilmu. Selamanya.
Aku selalu membenci setiap manusia yang membencimu, mah. Aku berdosa. Tapi apa salah seorang anak yang engkau lahirkan membenci manusia yang membencimu? Aku tak rela mendengar mulut jahanam orang lain mengumpatmu, mah. Aku bisa menjadi iblis bagi mereka yang melakukannya. Aku berdosa, mah. Tapi salahkah anak perempuanmu membela ibunya sendiri?
Aku tidak menuhankanmu, mah. Aku hanya bertindak sebagaimana anakmu. Layaknya manusia mah... Engkau rapuh, namun bagiku kau adalah karang. Entah lelah tubuhmu dihantam gelombang, aku akan berdiri di belakangmu, memelukmu. Layaknya makhluk Tuhan, mah. Engkau tidak seputih mutiara. Entah sakit jiwamu, mah. Aku rela menjadi penglipur sakitmu. Layaknya manusia mah... Kau menangis, namun aku akan menjadi alasan air matamu berhenti menetes. Mamah... guru dari segala guru adalah kehidupan itu sendiri, dan entah untuk keberapa kalinya, aku akan meminta kehidupan berjalan baik bersamamu. Aku tak peduli akan seperih apa duri yang kugenggam, jika hal itu yang harus ku lakukan. Senyum dan kasihmu adalah kebanggaan, mah... Upah dari setiap peluh, air mata, dan kelelahan. Di setiap doa yang aku panjatkan, namamu dan papah tak pernah absen dari daftar orang-orang terkasih. Aku anak pendosa jika ada satu detik di hatimu yang membenciku. Mamah... kau tahu? Kau adalah salah satu rumah dimana rinduku berpulang, dan tengadahmu merupakan laguna dimana aku mendapat keridhoan.
Mamah... aku tidak mengkuduskanmu, tidak mah, tidak. Aku hanya menjadi anakmu, bertindak layaknya anak. Mah... pagi tadi, sehabis bangun dari tidurku, aku telah mengucapkannya padamu. Iya..., aku menyayangimu, sangat begitu. Selamat Hari Ibu, mah...