Rabu, 31 Juli 2013

Sedikit tentang lalu

 foto : Guntur Triyoga

Aku pernah terjatuh dan tak pernah berharap untuk mampu berdiri.. Lalu aku pernah merasakan perih dan tak berpikir mampu sembuh, tak terluka lagi.
Namun diantara hitam dan sedih yang aku derita, dia datang. Seseorang yang dari awal perjumpaan telah membuatku mengingat wajahnya. Seseorang yang sejak awal perjumpaan telah membuatku merasa tak 'kan mampu menyapanya.
Dia datang lebih dari yang aku butuhkan, seperti kakak, seperti sahabat, seperti kekasih, seperti apa yang tengah aku butuhkan. Aku merasa terbuang, tersingkirkan, namun dia menggandengku, menopangku, menguatkanku.
Aku tak pernah merasa sekuat itu, tak pernah merasa semampu itu. Dia tinggal, tidak pergi ketika yang lain pergi. Mengulurkan tangan ketika yang lain menarik bantuan. Dia Malaikat Mimpi-ku dan dia tahu.
Lalu aku bahagia, sekejap. Dia memberiku "cinta", katanya. Aku pun sedikit merasa. Namun banyak mulut yang membuatku merasa it isn't a good choice. Ya, aku menelantarkan yang katanya "cinta" itu ketika masih dalam kuncupnya. Katanya, dia tidak terluka. Kataku ini bukan apa-apa. Kataku " aku menganggapmu kakak, dan sebaiknya hanya kakak." Entah kebodohan atau keputusan yang tepat. Dia tidak indah, hanya saja memang tidak ada kata yang bisa mendefinisikannya. Kata orang dia "pemain banyak hati", namun kataku dia punya apa yang orang lain tak punya.
Dia tidak pernah sekalipun menumbuhkan bencinya padaku, ketika labilku menjadi Jenderal untuk otakku. Dia mencariku ketika pesannya tak aku balas. Ketenangan adalah yang aku butuhkan waktu itu, namun dia tak mau membiarkanku sendiri dan tenang. Perlahan aku membenci dia. Tidak. Bukan benci, hanya memang butuh sendiri. Lalu waktu yang berbentuk bulan, menyadarkanku. Aku melukai dia, tanpa tahu alasannya.
Dia tidak membenciku. Tidak. Dia datang lalu menegur labilku, aku sadar.

Ternyata penyesalan memang selalu datang ketika semua sudah terlambat.Tentang sesal yang menyadarkanku.
Ada rindu kini, sementara dia telah jauh dari genggaman. Mungkin dulu mampu ku tuntaskan rindu semauku, namun dia kini memiliki hidupnya.
Ada rindu padahal dia tak merindu. Dulu dengan mudah aku memanggilnya mendekat padaku, sementara kini aku tak 'kan mampu.
Ada kehilangan yang menyakitkan. Ada ikhlas yang harus dibenturkan. Ada pengharapan yang mati pada kenyataan. Aku harus tersadar. Malaikat Mimpi-ku tidak tercipta untuk ku genggam ketika aku butuh saja. Malaikat Mimpi-ku memiliki mimpi selain aku. Malaikat Mimpi-ku memiliki hidup, dan bukan untukku. Malaikat Mimpi-ku bukan milikku. Bukan milikku. Bukan milikku.... ***


***Postingan tanpa kerangka, hanya unek-unek semata


Senin, 29 Juli 2013

Apa Kau Pernah?

apa kau pernah menanti seseorang hingga keputusasaanmu menghampiri? apa kau pernah menyebut nama seseorang dalam percakapanmu dengan Tuhan, namun seolah dia tidak menghargai? apa kau pernah menunggu seseorang mengirim pesan padamu hanya untuk memastikan dia baik-baik saja dan mengingatmu? apa kau pernah tersiksa memikirkan seseorang yang kau cintai tidak memberimu kabar namun memberi kabar pada orang lain? apa kau pernah merasa ingin menyerah ketika seseorang yang kau perjuangkan bahkan tidak melihat keberadaanmu? apa kau pernah? lalu apa yang kau lakukan?
aku menyebut namamu dalam setiap langkahku, biar Tuhan menyampaikan rasa itu ke hatimu, namun mungkin hatimu telah kau tutup tanpa celah, Tuhan bisa membukanya, namun Tuhan lebih tahu apa yang sebaiknya aku lakukan. aku enggan mengatakan rindu padamu, aku tahu rinduku termentahkan. dia tak sanggup membuka pintu itu, lalu aku biarkan Tuhan dan waktu yang menyimpannya. aku ingin kau baik-baik saja, dan kau baik-baik saja. namun aku terluka. aku tak pernah dalam otakmu ketika kau baik-baik saja. aku berharap kau melihatku. lalu kau memang melihatku. namun bukan padaku cinta dan rindunya tertuju.
apa kau pernah mencinta setelah kau terluka? apa kau pernah percaya ketika kau merana? apa kau pernah merindu ketika hatimu terlalu lama berkabut pilu? aku pernah. aku pernah. aku pernah dan itu padamu.

Kamis, 25 Juli 2013

Opini tentang Pendidikan Indonesia ( tugas LPM )




Terpujilah wahai engkau Ibu Bapak Guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku. Semua baktimu akan ku ukir di dalam hatiku. Sebagai prasasti terima kasihku tuk pengabdianmu. Engkau sebagai pelita dalam kegelapan. Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Engkau patriot pahlawan bangsa... tanpa tanda jasa.
 Sering mendengar lagu tersebut? Atau bahkan kita hanya mendengarnya ketika upacara kelulusan Sekolah Dasar dulu ? Coba ingat kapan terakhir kali lagu itu kita dengarkan.
Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu cita-cita bangsa Indonesia. Hal tersebut yang menandakan bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang menjadikan pendidikan sebagai salah satu aspek penting dalam kehidupannya. Namun, dapat kita lihat sendiri bagaimana sekarang keadaan pendidikan kita. Mulai dari faktor pendidik dan sarana-prasarana pendidikannya.
Sebuah hal yang dilematis ketika potret pendidikan saat ini dihadapkan dengan kalimat “masa depan bangsa kita ada pada generasi penerusnya”. Bisa dibayangkan bagaimana tangan kecil anak-anak Indonesia yang dididik dengan sarana dan prasarana yang sangat minimum dan pendidikan yang tidak memadai akan memegang tampuk kekuasaan di masa yang akan datang? Ironis. Bayangkan saja, pendidikan yang pada dasarnya adalah hak semua warga negara dan pemerintah wajib mendistribusikan dengan adil atau paling tidak menyamaratakan hal tersebut, hanya terfokus di daerah-daerah yang dekat dengan pusat pemerintahan. Entah itu di daerah-daerah atau di kota sekalipun. Bisa kita amati, banyak terjadi ketimpangan pendidikan di Indonesia. Daerah yang jauh dari pusat pemerintahan, bangunan sekolah, sarana prasarana dan tenaga pendidiknya jauh dari kesan layak. Sedangkan sekolah yang berada dekat dengan pusat pemerintahan cenderung menjadi sekolah favorit dan semua kebutuhannya terpenuhi.
Di salah satu desa di Kecamatan Gombong, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, sarana prasarana sangat tidak memadai di jenjang pendidikan Taman Kanak-Kanak, misalnya di TK Pertiwi 11. Bangunan yang juga menjadi gedung Dharma Wanita Desa Kalitengah ini telah berdiri sejak tahun 1980. TK yang didirikan oleh pemerintah Desa Kalitengah ini tidak banyak mengalami perubahan, bahkan lebih buruk dibandingkan TK yang dikelola oleh Yayasan yang juga berdiri tidak jauh dari TK milik desa. Hal tersebut dikarenakan pembiayaan TK yang ditanggung sendiri oleh pemerintahan Desa dan dibantu oleh Pemerintah Daerah. Sedangkan kemampuan desa sangatlah minim jika harus membiayai perawatan dan pembangunan yang memadai untuk TK tersebut. Memang Taman Kanak-Kanak bukan merupakan salah satu pendidikan formal yang wajib dilalui oleh setiap anak. Tetapi di sinilah penanaman moral dan salah satu pendidikan pertama anak di luar keluarganya, selain Pendidikan Anak Usia Dini sekarang ini. Taman Kanak-Kanak memang telah luput dari perhatian kita, padahal sebenarnya keberadaan Taman Kanak-Kanak juga berpengaruh pada kepribadian generasi-generasi penerus kita.
 Tidak hanya kecacatan itu saja, di desa ini, bahkan beberapa tempat lainnya di Indonesia, masih saja terjadi praktek Nepotisme. Dalam kenyataannya, akan sangat mudah bagi seseorang menjadi guru ketika orang tersebut memiliki kenalan atau kerabat dalam bidang yang sama. Sedangkan di luar sana, masih banyak guru-guru yang dengan susah payah harus menempuh masa baktinya selama bertahun-tahun dan belum tentu diangkat sebagai PNS. Ibu Titi, salah satu guru di TK Pertiwi 11 telah mengabdi selama dua belas tahun, namun hingga saat ini beliau masih menjadi tenaga honorer di TK yang hanya memiliki dua orang tenaga pendidik ini. Beliau hanya mendapat sebagian sawah bengkok (sawah desa) dari Desa Kalitengah. Lalu tunjangan kurang lebih Rp 400.000 dan sebagian uang yang jika dinominalkan kurang dari Rp 50.000 dari iuran muridnya setiap bulannya.
Pendidikan yang menjadi aset penting negara dan merupakan jalan bagi para generasi muda memajukan kehidupan mereka keadaannya sangat memprihatinkan. Di beberapa bagian Indonesia, negeri yang katanya kaya raya ini, anak-anaknya harus meniti jembatan dari tali, menyeberang sungai besar, menempuh puluhan kilometer untuk memperoleh pendidikan. Di beberapa bagian Indonesia yang disebut-sebut sebagai tanah surga ini, pendidikan bahkan belum mampu menjamah ke pelosok-pelosok negeri. Di negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, banyak sekolah pelosok yang atapnya terbuat dari daun-daun, atau atap genteng namun air masih mampu masuk ketika hujan turun.
Pendidikan adalah aspek vital dalam kehidupan bernegara, namun hingga saat ini Indonesia masih belum mampu memberikan dan mendistribusikan pendidikan keseluruh daerahnya. Masih banyak anak-anak di luar sana yang masih buta huruf. Bahkan bukan hanya anak-anak, para remaja pun masih ada yang tidak bisa membaca dan menulis. Pemerintah harus menjalankan tugas dan kewajibannya dalam pemenuhan hak pendidikan ini. Meskipun jika pada akhirnya masyarakat menolak bersekolah, pasti ada alasan dibalik itu semua. Entah karena biaya yang memang mahal untuk mengenyam pendidikan atau masalah lain, namun bukankah pendidikan tidak hanya didapat dari bangku sekolah? Di sinilah peran pemerintah sebenarnya.



Selasa, 23 Juli 2013

Berhak Lupa

aku adalah serpihan-serpihan malam, aku adalah kepingan-kepingan kisah yang mungkin perlahan namun pasti kau lupakan. aku hanya sisa dari harap-harap impian. aku hanya bias dari cahaya yang memantul pada cermin-cermin retak. tak terkendali tak terdefinisi. aku hanya daun-daun kering terhempas angin namun tak mampu membencinya. aku hanya lirik-lirik lagu yang lupa kau tulis, notasi-notasi tinggi yang kau benci, nada-nada sumbang dari dawai gitar yang kau petik. aku hanya malam tanpa rembulan maupun gemintang, aku hanya pantai yang tak berombak, aku gunung yang tak berbatu. aku adalah masa lalumu, namun kau masih menjadi masa kini ku. aku ini siapa? aku pun tak tahu. pada detik dan menit aku hanya merangkai rindu, tak berbatas tak berbalas. Pada jam dan hari-hari ku ukir namamu pada doa-doa, tak berbatas tak berbalas. Pada janji-janji dan kisah-kisah, ku selipkan wajahmu, tak berbatas tak berbalas. Aku hanya langkah-langkah bodoh pada masamu, hanya pasir dari pantai gersangmu, labuhan tua dari perahumu. aku bukan siapa-siapa. Hanya retakan dan patahan pada duniamu. aku ini siapa? aku bahkan lupa pada namaku, aku hanya ingat namamu. namamu.  apa itu salahku? atau itu salahmu? bahkan pada hakim-hakim dan jaksa-jaksa aku tak segan berteriak. tak akan. tak ada yang salah pada kisah bodoh nan tua kita. kisah tolol dan naif kita. ini tentang rasa, kau berhak pergi dari pantai tak berombak, kau berhak lupa pada malam tak berbulan dan gemintang, kau berhak membenci dedaunan kering tak berdaya, kau boleh mencaci gunung-gunung tak berbatu. kau berhak membenci dan melupakanku. berhak melupakanku. melupakan aku.

Masa Lalu, Labil, dan Proses

Hallo,
Hari yang keseluruhannya dingin... entahlah, tetapi setiap bulan Ramadhan, di kampungku suasananya selalu begini.
Di penghujung siang yang dingin ini, aku merasa sesuatu keanehan. Seperti ada kekosongan yang tak biasa. Mungkin karena seseorang yang hampir setiap hari aku khawatirkan keadaannya tengah berada jauh di tempat yang tidak bisa aku bayangkan.
Tetiba aku berpikir, orang yang setiap hari bertemu saja bisa dia lupakan dengan mudah, apalagi aku? orang yang mungkin tidak ada satupun momenku yang ia simpan di memori otaknya.
Tapi... ah sudahlah, bagiku itu hanya cerita biasa...
Bukankah setiap manusia memiliki luka dan ketakutan masing-masing?
Hari ini aku belajar dari kisah sahabatku... Lebih tepatnya pembenaran atas sikapku.
Beberapa orang dalam kehidupanku ceritanya hampir mirip denganku. Kami sama-sama terjebak dalam bayang-bayang masa lalu. Atau mungkin memang kami---kebanyakan wanita---adalah orang-orang yang tidak termasuk dalam jajaran orang-orang mudah lupa? Atau mungkin kami yang terlalu banyak mengingat?
Aku rasa kami hanya manusia-manusia yang terlalu mencintai proses dan waktu. Kami terlalu sayang untuk melepas ingatan-ingatan indah dan hal-hal baik pada masa lalu. Padahal aku yakin itu hal bodoh yang seharusnya kami hindari. Bahkan keledai-pun tidak akan jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Ini seperti aku melihat cerminan diriku pada orang-orang sekitarku.
Aku pernah dengar, " Ketika kau ingin tahu siapa dia sebenarnya, maka lihat-lah orang-orang yang ada di sekelilingnya." Dan itu memang tepat. Seseorang akan berteman dan merasa nyaman dengan orang-orang yang hampir sama dengannya. Itu sudah naluriah, alam bawah sadar. Ketertarikan emosional.
Siang tadi, seorang sahabat mencurahkan kisahnya hari ini. Seseorang dari masa lalu yang ingin ia "jarang ingat" tetiba memarahinya karena sebuah tweet-nya yang dianggap seronok. Lelaki itu mengingatkannya, menasehatinya, sebuah perhatian terselubung menurutku. Perhatian dengan omelan yang menyakitkan namun manis jika kau baca caranya menulis pesan.
Lelaki dari masalalu sahabatku ini mengatakan bahwa " hal-hal kotor itu bukan suatu hal yang patut untuk dibicarakan oleh wanita, apakah ibumu akan senang ketika melihat anaknya berkata hal-hal seronok seperti itu? Lalu apakah aku harus berkompromi ketika kamu mengatakan hal-hal seperti itu? "
Hahaha, bagiku itu manis. Dia masih memerhatikan kita sampai hal terkecil yang ada. Tweet ! Bayangkan, hanya sebuah kalimat yang berjumlah 140 karakter masih membuatnya marah? Sebuah bentuk perhatian yang manis. Sahabatku pun merasakan hal yang sama denganku. Dia menganggap itu adalah perhatian kecil yang indah namun menyakitkan.
Aku tahu rasanya, bagaimana tidak menyakitkan, ketika lelaki dari masa lalumu tidak mau menerima cintamu lagi, sedang kau masih mencintainya, lalu dia dekat dengan wanita lain, namun pada saat yang sama selalu memerhatikan setiap tingkah dan kegiatanmu. Apakah itu tidak menyakitkan?
Mungkin kami memang membutakan logika kami, banyak kemungkinan yang sebenarnya ada pada situasi itu, boleh jadi karena si lelaki memang sudah tidak menyayangi namun masih memerhatikan layaknya adik perempuannya. Atau boleh jadi si lelaki hanya sekadar memerhatikan tanpa memiliki rasa.
Aku hanya berpesan pada sahabatku ini, meniru apa yang aku lakukan pada diriku sendiri. Pembenaran atas sikapku sendiri sebenarnya.
Aku hanya memerintahkannya untuk membunuh hatinya sendiri sebelum hati itu dibunuh oleh lelaki dari masa lalunya itu. Bukankah lebih sakit ketika kau merawat sesuatu namun tetiba diinjak lalu dibunuhnya sesuatu itu oleh orang lain daripada ketika kau membunuh apa yang sudah kau rawat sendiri?
Ini sebuah pilihan..., pilihan untuk dijatuhkan atau menjatuhkan dirimu sendiri. Dibunuh atau membunuh dirimu sendiri. Hanya dua pilihan itu. Pilihan yang amat sangat sulit. Tidak ada pilihan lain. Maka mana yang akan kau pilih? Jika dibunuh, maka rasakan saja kesakitan yang tidak hanya sekali-dua kali, namun lebih dari itu.

Setiap orang memiliki lukanya masing-masing. Dan beberapa orang yang aku kenal, juga memiliki luka yang hampir sama. Sama-sama berpisah karena keadaan. Sebenarnya dalam hal ini tidak patut kami menyalahkan keadaan. Hanya memang kami saja yang tidak bisa saling menjaga, menjaga hati, menjaga komitmen, menjaga semua yang telah kami bina, dan pada akhirnya hal-hal itu hanya memunculkan luka.
Jika ini labil, maka kami memang masih labil. Tetapi bukankah setiap manusia selalu berproses? Dia adalah makhluk yang dinamis, maka salahkah kami yang masih berproses keluar dan menyelesaikan kelabilan?
Setiap proses selalu ada hasilnya bukan? Lalu, tunggulah kami, tunggu lah kami dari proses masa lalu kami.

Senin, 22 Juli 2013

Hallo Aku Jatuh Cinta

Hallo selamat sore...
Sore yang teduh di kampungku. Jingga tidak bisa menembus barikade awan dan persengkongkolannya dengan mendung... Dingin memang telah biasa pada pagi dan sore di tempat ini, hingga tidur adalah kegiatan paling menarik ketika liburan singgah di kalender akademikku. Oke, sore ini aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu...
Apa kau pernah merasakan jatuh cinta atau paling tidak mengira itu jatuh cinta? Jantungmu berdetak tak terkendali ketika otak mengirimkan sinyal-sinyal yang kontras luar biasa dengan atmosfer sekeliling kita?
Ketika tidak berani menatap matanya atau salah tingkah ketika duduk berdekatan dengannya? Atau mungkin kau berharap dia membalas pesanmu lebih panjang dan setiap hari mengirimkan perhatian? Atau ingin menyentuhnya namun ada getar-getar kecil di balik lapisan kulitmu? Bahkan ketika berjabat kau tak ingin melepas, atau ketika berjabat kau tak henti berdegup dan hilang akal, bimbang, lalu merasa seolah seluruh kupu-kupu yang tadinya bergerak dalam perutmu membuncah di seluruh tubuhmu...
Pernah? atau tengah?
Aku sedang merasakannya... Ada rindu ketika beberapa lama tak berjumpa. Lalu setelah berjumpa tidak bisa tidak salah tingkah di depannya. Atau tidak bisa tidak lama ketika ingin berbincang. Atau mungkin mencuri-curi  pandang di sela dia tertawa, tersenyum, berbicara, diam dan segala hal yang dia perbuat. Bahagia luar biasa ketika dia mulai mengeluarkan ide-ide gilanya, leluconnya, pembicaraannya yang tidak hanya tentang impian... dia itu guru, guru dari realitasku. Dia itu pemantik untuk semangatku.
Pernahkan kau merasakan itu? Dia hanya seseorang dari kepingan masa lalu yang benar-benar tak ingin aku buang. Dia adalah saksi dari aku yang tidak seimbang.
Dulu, iya... dulu. Aku pernah ada di hatinya, mungkin... dan aku malah mempermainkan apa yang ia punya. Bukan niatku, hanya ketidakstabilanku yang membuat keadaan seolah tidak begitu indah.
Sekarang kau tahu? Dia luar biasa, tidak indah, namun memesona. Cara pandangnya, perlakuannya, bahkan kebaikannya. Tapi ada batasan diantara kami, batasan yang membuatku merasa bahwa aku tak akan pernah memilikinya (lagi). Dia itu terlaluuuuu indah, dan aku tak yakin mampu menjaga hati dari pemiliknya itu. Aku tak yakin bisa dipercaya untuk merawat hati itu. Dia pasti akan memperoleh penjaga hati dari golongannya, dari wanita yang juga satu pandangan, satu perlakuan, dan satu ahlaq dengan dia. Dan aku kira, itu bukan aku. Orang yang pernah seenak hati memperlakukannya. Dia bukan pendendam, namun dia mungkin tidak akan lupa perlakuanku.
And so what? Bukankah jatuh cinta itu tidak dilarang? Aku mencintai---atau mungkin mengagumi--- dia, sebagaimana perlakuannya terhadapku. Aaaaakkkk.... aku jatuh cintaaaa !!!

Minggu, 21 Juli 2013

Rindu untuk siapa?

pernah merindu? namun kau tak tahu teruntuk siapa rindu itu?
malam ini rinduku tetiba muncul tanpa memberi salam, dia mengetuk perlahan pada dinding hati yang tenang... sakit tetiba bermunculan, mencari sandaran labuhan. risauku melayang, menghitam. kemana rindu ini akan ku sematkan? sementara ada jarak dan waktu yang terbentang, ada kepentingan-kepentingan dan perbedaan. aku tak tahu rinduku teruntuk siapa, dia seolah anak ayam kehilangan sang induk, sementara aku tak mampu mengembalikan induk.
Rinduku kacau balau, hingga aku tak mengerti sesiapa yang ada pada rinduku. yang berada di balik rindu sendu...

Sabtu, 20 Juli 2013

Mencintai otak dan ahlaqnya...

Selamat Malam,
ini malam minggu yaaa? Selamat bermalam minggu yang sedang tidak tarawih, dan selamat beribadah yang sedang beribadah...
pernah merasakan jatuh cinta pada isi otak dan ahlaqnya? manis yaaa? iyaa... mungkin kurang tepat jika dikatakan jatuh cinta, karena cinta memang tak pernah memiliki alasan pasti untuk pembenarannya. terlalu dangkal jika kau mencintai orang karena otak dan ahlaqnya saja...
bayangkan saja jika otaknya nanti sudah usang dan tua hingga seluruh isi yang ada pada otaknya juga ikut usang, maka mungkin cintamu juga akan usang. Lalu jika kau hanya mencintainya karena ahlaqnya, mungkin sangat benar ketika dihadapkan dengan masalah religi, tapi akankah kita berhenti mencintai jika dia jatuh pada titik dimana hal-hal salah berada. Bukankah cinta yang benar akan menunjukkan jalan yang benar pula?
ketika yang kau cintai adalah orang dengan otak standar, maka bisa saja cinta mengubah cara berpikir standarnya itu. Atau bisa saja ketika kau mencintai seorang penjahat, maka dengan cintamu, ubah dia menjadi ustadz. Cinta itu perubahan, perubahan dari hal-hal buruk nan egois menjadi hal-hal lembut dan melengkapi. Cinta itu bukan hanya tentang memberikan keuntungan pada satu orang saja, namun kepada seluruh yang ada di sekelilingnya.
aku pernah mencintai--lebih tepat mengagumi--seseorang karena isi otaknya yang tidak luar biasa tapi tidak juga seperti kebanyakan lelaki yang aku temui. Aku juga mencintai--mengagumi--ahlaqnya... tetapi ketika dihadapkan pada lelaki yang 180 derajat darinya, aku lebih tak bisa lepas dari orang yang isi otak dan ahlaqnya di luar keinginanku. Tapi apa daya? bukankah cinta datang pada siapa saja yang siap dan meminta, dia datang pada orang yang tidak hanya menarik, tapi berani. Cinta datang pada hati yang juga ingin dicintai... tanpa alasan tanpa rencana. Mencintai adalah hal yang manis sekaligus pahit. Mencintai itu seperti kita tengah menggigit coklat batangan murni. Diantara manis yang terkecap, ada getir samar yang kau rasa. Mencintai itu seperti buah. Kau tak akan tahu isi di dalamnya sebelum kau membuka bungkusnya. Kau tak akan tahu rasanya sebelum kau mencobanya.. Cinta itu seperti kau berenang, bukan karena kau menyukai air hingga kau berenang, tapi karena kau berenang sehingga kau harus menyukai air. Bukan karena kau mencintai otak dan ahlaqnya hingga kau mencintai orangnya, tetapi cintai orangnya maka kau akan menerima segala yang ada padanya dan mampu membantunya berubah jika itu perlu :))

Jumat, 19 Juli 2013

22:54

senja tadi di ujung jalan kampung halaman. jingga tadi, di persimpangan Jogja dan kenangan. aku berlalu perlahan, menatap sore yang kemilauan. entah apa yang aku cintai dari Jogja, kota bertabur cerita... aku tak pernah berharap untuk menetap di sana lama, aku hanya cinta suasana damainya... nostalgianya... aku suka berjalan lama di sudut-sudut malioboro, menikmati malam duduk di kaki lima, bercengkerama hangat, membuka mata dengan suasana berbeda dari sebelumnya, bahagia. Ya, aku bahagia dengan Jogja yang sederhana, dengan senyum hangatnya, dengan romantisme yang tercipta dari jejeran lampu remang-remang. Aku suka Jogja, ketika malam, ketika santai dan lengang, ketika hari bahkan begitu panjang, aku suka Jogja... tetapi jingga di sudut senja menyadarkanku, ada kehilangan mendasar padaku atas kota itu, kau tahu apa? cinta... aku kehilangan kecintaanku padanya... aku telah larut dalam bising dan riwehnya pra-metropolitan... Jogjaku berubah perlahan, jumawa sedikit merusak kesederhanaannya.. di sana, di kota yang menyimpan sejuta kenangan. Aku pernah jatuh cinta dan patah arang, aku pernah bahagia dan terluka, aku pernah terbang dan terkubur, aku pernah menikmati hujan lalu membencinya, aku pernah tertawa lalu menangis disudut malam, aku pernah mengukir cerita lalu bernostalgia. Aku pernah mencintai lalu kehilangan... di Jogja. Pertemuan dan perpisahan, batas dan ujung, awal dan akhir... Jogja.

Kamis, 18 Juli 2013

Ayo Menulis :))

Hai selamat malam. Ini Kamis malam, dan aku tengah bersantai di depan televisi dalam kamar kosku. Hari yang.... biasa saja. Tidak spesial dan juga tidak buruk. Tadi baru saja aku menginstal aplikasi blogger for android, lumayan lah, setidaknya sekarang aku bisa menulis tanpa harus membuka PC... hehehe
Malam ini sepertinya aku kekenyangan, ini Ramadhan, dan aku berbuka puasa dengan makanan berminyak brooo, dan baru beberapa menit lalu juga makan gorengan gitu, duuuuh... tenggorokan udah mulai gak karuan, haha
sepertinya aku pikir postingan ini adalah salah satu postingan paling tidak penting yang aku publikasikan, but so what?? selama kamu masih bisa menulis, tulislah apa yang ingin tulis, karena tanpa menulis kamu hanyalah hewan yang berpikir haha, Pram banget yaaa, tapi aku sih setuju... bahkan sangat setuju, ketika manusia enggan menulis, lalu apa yang akan mereka tinggalkan nanti setelah mereka meninggal, hanya foto, kenangan, memori? iya jika yang hidup ingat, lalu kalau tidak, terus selama hidup kita itu ngapain ajaaaa? kita kemana ajaaa?? untuk itu menulislah, apapun itu, sebodoh apapun tulisan itu, sekonyol apapun tulisan itu, setidaknya itu membuktikan kamu pernah ada dalam dunia ini, entah itu status galau di facebook, twitter, atau postingan ga jelas macam ini, whatever, but you must try to write.... it's a awesome activity, trust me... kamu bakal ketagihan saat kamu menuangkan semua ide gilamu dalam bentuk tulisanmu, apapun bentuknya... mungkin beberapa orang berpikir tulislah hal yang bermanfaat, tapi aku lebih berpikir bahwa tulislah apa yang ingin kamu tulis. menulis itu bukan tentang benar atau salah, kolot banget rasanya kalau setiap tulisan harus selalu benar, aku merasa jika kita dituntut untuk selalu benar dalam menulis, semua orang akan takut menulis, karena takut salah.... menurutku menulis itu sebuah kebutuhan, entah benar atau salah, entah indah atau tidak, entah berkesinambungan atau tidak, setidaknya kebutuhan kita terpenuhi. menulis itu kebutuhan jiwa, psikis, batin, semakin banyak kamu menulis, semakin banyak apa yang akan kamu dapat, mulai dari pemecahan masalah, ide gila dalam hidup, kenangan-kenangan, kebahagiaan, dan ketenangan... atau bahkan kamu akan mendapatkan sesuatu yang hilang dari dirimu, sesuatu yang takut kamu keluarkan, sesuatu yang kamu batasi keberadaannya, sesuatu yang sebenarnya kamu butuhkan, kamu akan mendapatkan penjelasan tentang siapa kamu sebenarnya...
aku hanya berpesan, teruslah menulis, jangan dulu berpikir hasilnya akan baik atau buruk, tapi berpikirlah bagaimana caranya tulisan itu mewakili apa yang kamu mau saat itu....
ayo menuliiiiiss :))

sepucuk rindu

seandainya gelap adalah caraku mencintaimu, aku takkan pernah berharap siang datang. apabila malam adalah caraku memendam rindu dan membisikkan namamu pada desau angin adalah jalanku mengungkapkan rasa itu, maka takkan ku biarkan pagi berlabuh di kotaku. aku hanya bertaruh pada gemuruh malam dan pesona bulan, bahwa rinduku kau sambut tanpa termentahkan. namun sepertinya aku kalah, rinduku tak pernah sampai pada rumahnya... dia mati kering setelah sang pemilik mengacuhkannya... ini tentang rindu dan kangenku yang tumbuh namun tak berbalas, tentang asam yang terkecap dari pedihnya penolakan.. tapi apabila gelap adalah caraku mencintaimu dan malam adalah jalanku memendam rindu, maka semoga pagi dan senja akan seperti rindu yang cair pada masanya, pada manisnya, pada rumahnya, pada pemiliknya... kamu.